Rabu, 09 Mei 2007

MELIHAT KEINDAHAN PEPOHONAN


Belakangan saya suka mengamat-amati pepohonan. Bukan berarti sebelumnya saya tidak melakukan kegiatan itu. Saya suka tumbuhan. Saya mempelajari botani di universitas dan saya pikir itu subyek yang menyenangkan. Saya tumbuh besar di pedesaan. Musik yang paling sering saya dengar adalah bunyi angin meniup pelepah-pelepah pohon kelapa. Di depan rumah dimana keluargaku tinggal selama ini, tumbuh pohon kelengkeng yang sangat rimbun. Jika ingin melihat apakah angin bertiup lebih kencang dari biasanya (sehingga bisa segera mengambil langkah pengamanan) maka tinggal melihat bagaimana gerak daun-daun pohon itu. Beberapa tahun belakangan, pohon itu menjadi sarang burung prenjak. Orang Jawa menganggap suara burung prenjak sebagai pertanda kedatangan seorang tamu. Padahal burung itu sering sekali bernyanyi, kadang sampai beberapa kali dalam sehari, dan (ternyata) tidak ada tamu yang datang berkunjung. Hal itu sering menjadi bahan guyonan ketika saya pulang ke rumah.

Dulu, yang saya maksud dengan menikmati keindahan tetumbuhan adalah apabila ada bunga yang sedang mekar dari tumbuhan itu. Jadi pengertian yang saya gunakan hanya terbatas pada "menikmati hanya jika ada hal yang indah".

Sekarang, seiring dengan pemahaman saya akan makna keindahan, bahwa kadang-kadang keindahan dapat juga terdapat pada sesuatu yang (terlihat) tidak indah, maka kegiatan mengamat-amati pepohonan itu menjadi berbeda, baik dalam konsep maupun apresiasinya.

Saya suka mengamati pohon yang besar, jenis tumbuhan yang menghijau sepanjang tahun. Tetapi lebih suka lagi apabila pohon itu berusia tua. Pohon yang tua memiliki karakter yang kuat. Saya paling senang mengamati bentuk kulit batangnya dan menemukan sisa-sisa musim yang telah dilaluinya. Kadang-kadang sebatang pohon tua membuat saya terharu. Bahwa dia memiliki kekuatan untuk menghadapi perubahan-perubahan musim itu menyentuh hati saya.


Jika saya memiliki "hati" pohon tua itu maka alangkah bagusnya.

WANITA DAN WANITA YANG TERHORMAT

Belakangan saya melihat keburukan sifat wanita. Saya terbiasa hidup berdasarkan aturan yang fair jadi itu semua membuat saya terkejut. Saya pikir wanita yang terhormat tidak akan melakukan hal-hal yang merendahkan martabat. Tapi mungkin mereka melihat dari sisi yang lebih praktis. Memang, kalau dipikir-pikir, di dunia yang ya gitu deh ini, bagaimana mungkin kita berharap akan ada bunga yang tumbuh di atas batu? Dalam hal ini pertanyaan yang timbul adalah "apa yang bisa didapat dari bersikap sebagai seorang wanita terhormat?" lalu merembet ke pertanyaan yang lebih ironis: "apakah kehormatan bisa menyelamatkan orang dari akibat-akibat yang ditimbulkan oleh rasa lapar?" Bagi saya yang menempatkan kehormatan di atas segala-galanya, hal itu sungguh membuat shock.
Saya mengenal seorang wanita. Awalnya saya melihatnya sebagai seorang wanita yang berpendidikan dan karena alasan itu menjadi mungkin bahwa dia mengetahui bahwa dia seharusnya bersikap seperti seorang lady. Saya tidak menyadari betapa naifnya saya yang menyimpulkan hal seperti itu.
Pada suatu hari dia mengeluh kesulitan keuangan. Tidak saya sangka, dia bukannya memilih untuk bekerja keras dan melakukan sejumlah upaya penghematan, sebagaimana seharusnya sikap seorang lady yang saya ketahui, tetapi dia malah mencari penyelesaian masalah di dalam diri seorang pria. Dia setuju muntuk menerima cinta seorang pria, yang menurut pengakuannya sendiri sebenarnya tidak dia cintai, hanya karena pria itu akan memberinya kemapanan dalam segi finansial.
Saya tahu itu bukan urusan saya. Orang boleh menempuh jalan apapun yang dia sukai dan itu tidak ada hubungannya dengan saya. Tetapi hal seperti itu sangat bertentangan dengan prinsip saya. Saya pribadi akan memasukkan hal semacam itu sebagai suatu bentuk tipu daya, bahkan tindakan kriminal. Menggunakan cinta untuk sesuatu yang bukan cinta pula, saya nyaris memandangnya sebagai hal yang menjijikkan.

Minggu, 06 Mei 2007

PEDATI MUSIM


Musim seperti pedati tua. Kita sering mengira ia berjalan sangat lambat hingga kita tidak sabar lalu pergi meninggalkannya untuk melihat-lihat pemandangan. Kita percaya bahwa kita akan selalu bisa menyusulnya, dengan sedikit berlari dapat menyamai langkahnya. Tapi ia terus bergerak, berjalan menjauh dan tanpa sadar kita pun telah tertinggal.
Musim adalah mekanisme pergantian yang diciptakan Tuhan dengan cita rasa seni yang tak tertandingi, merekonstruksi dengan indah semua hal yang dikhawatirkan dapat menghasilkan residu berupa kebosanan. Begitulah.
Kendati musim (terlihat) bergerak seperti kelambatan pedati, kita tidak harus terlena dan mengabaikannya karena semua orang pasti telah dilengkapi pengetahuan dalam gen dan selnya bagaimana cara menghabiskan musim.

PENYAIR DAN KESUNYIAN


Kesunyian adalah tanah tempat jiwa ditanam sebagaimana layaknya benih. Tempat itu laksana tempat pembuangan dan pengasingan, di dalamnya jiwa mengalami keharuan, kesakitan, penderitaan dan kesengsaraan yang gegap gempita dan kadang nyaris tak tertahankan. Pada titik dimana ketahanan sang jiwa terhadap masa hukuman itu telah berada pada titik paling memuakkan dia akan mulai mempertanyakan eksistensinya: "Berada di bagian manakah aku dalam konstelasi jagad raya ini?" Pertanyaan itu sendiri adalah kesakitannya yang paling sakit dan rintihannya yang paling memilukan telah memulai usaha pemberontakannya, sebuah upaya pelarian dari tanah pengasingan, menjawab pertanyaannya sendiri bahwa kemengadaannya adalah nyata. Kemudian tanah itu akan terbuka dan dunia akan melihat bahwa telah ada tunas yang terlahirkan. Tunas itu adalah penyair.

Tetapi di dalam tanah pembebasan itu kesengsaraan, kesakitan dan penderitaan itu tetap mengikutinya seperti rantai yang mengikat kakinya. Hanya saja perbedaan kesengsaraan dan kesakitan itu adalah karena mereka telah mengambil bentuk lain. Kesunyian itu telah beranjak dari kedalaman dan kegelapan tanah menuju tempat dimana matahari menyinarinya dan memperlihatkan bentuk rupanya dengan lebih sempurna. Tapi mereka tetap memiliki substansi yang sama.
Kesunyian selalu ditemukan dimanapun penyair berada. Untuk menyembuhkan diri dari kesunyian itu penyair menulis, sebagai penggambaran pemberontakannya pada tanah yang gelap, tetapi saat lukanya telah mereda, eksistensinya mulai mengambil alih. Di tanah pembebasan, tunas itu menjadi pohon dan menghadapi kesunyian lain: keramaian dan keriuhan eksistensinya dalam konstelasi jagad raya. Ini tidak dapat dielakkan, penyair adalah apa yang sedang mencoba untuk sembuh tetapi kepenyairan adalah bentuk pembebasan baru bagi kesunyian.
Jadi jika penyair ingin "menebang" kesunyian maka menulislah dia untuk menumbuhkan pohon baru tetapi setelah menjadi penyair dia tidak pantas mengeluh pada tunas-tunas kesunyian yang tumbuh akibat "tebangannya", dia juga tidak pantas "menebang" dirinya sendiri. Pemberontakan menimbulkan kemapanan dan kemapanan menimbulkan pemberontakan baru. Begitulah hukumnya.

Jumat, 04 Mei 2007

CINTA DAN HARGA DIRI


Ada sebuah ungkapan umum (saya tidak tahu siapa yang pertama kali menyatakannya) yang berbunyi: mencintai adalah ketika kamu kehilangan kedirianmu. Ungkapan ini mungkin kelihatan sangat romantis. Bisa dipakai sebagai pembenaran atas sikap dan perilaku yang "konyol, bodoh dan gila" dari seorang yang sedang mencintai.
Terus terang saja saya bukan seorang pencinta yang baik tetapi jika untuk menjadi seorang pencinta yang baik saya harus kehilangan kedirian saya maka saya sudah jelas akan menghentikan usaha untuk meraih predikat pencinta yang baik.
Bagi saya mencintai adalah suatu tahap yang untuk melaluinya saya harus terlebih dahulu melewati tahap mengakui kedirian saya. Tanpa tahap itu cinta hanya akan menjadi sebuah alat untuk memenuhi satu kekurangan dalam hidup, sebagaimana halnya makan yang berfungsi sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan akan makanan.
Cinta yang merepresentasikan dirinya dengan baik adalah apa yang menjadikan kita mengetahui bahwa kedirian kita mengambil peranan yang paling penting dalam seluruh tanggung jawab kita akan perilaku mencintai. Cinta yang semacam itu tidak akan merendahkan salah satu dari dua pihak (yang mencintai dan yang dicintai), tidak akan menempatkan salah satunya dalam satu kedudukan dalam masyarakat dimana dalam posisi itu dia dianggap tidak bermartabat.
Saya tentu saja meyakini bahwa bagaimana cara orang mencintai kekasihnya itu adalah urusan mereka sendiri tetapi jika ada terjadi apa yang disebut sebagai "kejahatan kemanusiaan akibat cinta" atau "kejahatan yang tidak bisa dapat diadili karena dilakukan atas dasar cinta" maka itu benar-benar membuat saya prihatin.

Minggu, 29 April 2007

ESENSI


Kau dan aku pada esensinya mungkin ada.Yang pada esensinya ada maka ada dengan sendirinya.Yang pada esensinya tidak mungkin ada maka dengan sendirinya tidak ada.Yang pada esensinya mungkin ada,seperti kita,maka tidak dengan sendirinya ada dan tidak pula dengan sendirinya tidak ada.Oleh karena itu untuk ada atau tidak adanya sesuatu yang pada esensinya mungkin ada itu diperlukan suatu sebab.Jelas bahwa sebab itu haruslah sesuatu yang pada esensinya mesti ada karena yang pada esensinya tidak mungkin ada tidak akan pernah ada.Pasti ada Yang Mesti Ada sebagai sumber dari segala yang ada di alam ini dan karenanya Dia berada di puncak segala-galanya.Karena itu konsekuensi logisnya,Yang Mesti Ada wajib tidak berpermulaan dan tidak pula berkesudahan.Dia tidak bisa menjadi tiada,karena itu berarti peniadaan esensiNya.Dan itu tidak mungkin karena yang pada esensinya wajib ada tidak mungkin tidak ada dengan sendirinya.

Tulisan diatas ada dalam buku harian saya tertanggal 14 desember 1999. Saya mengutipnya disini karena saya menyukai isinya. Sayangnya di buku harian saya itu saya lupa mencantumkan siapa yang menulis kutipan di atas atau di mana kutipan itu dipublikasikan. Sungguh sangat disayangkan.

Manusia adalah makhluk dengan banyak kerewelan. Seringkali dia tidak menyadari hal yang paling mendasar dari kehidupannya sebagai manusia padahal dalam setiap aspek keberadaannya dia ingin selalu dianggap sebagai makhluk dengan kemuliaan tertinggi.

ABSTRAK


Apakah yang lebih indah daripada sesuatu yang abstrak?
Di hadapan sesuatu yang abstrak kita dapat mengatakan apa saja, memikirkan apa saja, mengapresiasikan apa saja. And that's okay. Bukankah itu sesuatu yang sangat indah?
Betapa kebebasan kita (dan sepertinya keegoisan kita juga) mampu menemukan bentuk paling mendalam saat kita sedang bereaksi terhadap sesuatu yang abstrak.

Apa yang ada pada sesuatu yang abstrak adalah sesuatu yang lebih abstrak dari keabstrakan itu sendiri. Bagaimana pun kita mencintai keindahan, secara jujur kita harus mengakui bahwa pengetahuan kita akan keindahan itu sendiri terbatas oleh sisi kemanusiaan kita yang tidak sempurna. Kesadaran akan ketidaksempurnaan itu barangkali yang kemudian melahirkan ide yang abstrak.

Rabu, 04 April 2007

APA ARTINYA MENJADI TUA?

Walaupun aku berpikir bahwa menjadi tua itu sama alamiahnya dengan kehidupan tetapi tetap saja ketika melihat orang yang sudah tua aku merasakan sesuatu di dalam hatiku. Semacam rasa yang kurang bisa kumengerti. Aku merasa mereka adalah orang-orang yang telah mampu berkompromi dengan waktu. Orang-orang yang mampu mengalahkan rasa bosan. Aku sendiri telah lebih tua dari yang mampu kusadari tetapi aku masih memiliki semacam pesimisme dalam menghadapi kebosanan. Menurutku 90% dari waktu hidup kita, kita menggunakannya untuk sesuatu yang kecil, sepele dan sama sekali tidak penting, yang meskipun di satu sisi menjadi unsur penyokong terbentuknya sesuatu yang kemudian disebut besar, menakjubkan dan mulia, tetapi di sisi lain berisi hal-hal yang benar-benar sekedar main-main. Dan apa yang lebih membosankan daripada menyadari bahwa apa yang sedang kita lakukan ternyata hanyalah sesuatu yang "hanya"?
Melihat orang yang sudah tua aku sering tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya apakah dia tidak merasa capek dan bosan menjalani hidup dari hari ke hari. Jawaban dari pertanyaan itu bisa sangat beragam tetapi kebanyakan dari mereka cuma menjawab dengan senyuman seakan aku menanyakan hal yang tidak seharusnya ditanyakan. Aku sering memikirkan hal itu dan belakangan ketika aku sedang berada di dalam bis aku berpikir mungkin jawaban dari pertanyaanku itu (termasuk prosentase waktu yang tadi kubuat) adalah tergantung dengan siapa dan dengan cara bagaimana seseorang menghadapi hidupnya. Kukira itu cukup masuk akal.