Minggu, 15 April 2012

LAGU

Akhir-akhir ini saya menyukai sebuah lagu. Saya tidak tahu apa judulnya. Liriknya adalah seperti ini:

Nadyan digawe kuciwa...
nanging ati malah saya tresna.
Awit aku wis rumangsa...
ora banda sarta ora rupa.
Wirangku setengah mati...
ngasih-asih datan tinambuhi.
Kairing adrenging ati..
meksa wurung penggayuhku iki.
Roning muda,dhuh kesuma..
pamupuse mung kudu narima.
Gedhang rambat sak upami...
aku lila tumekaning pati.
Abote wong manding tresna...
ra kuwawa rasa kang sinangga.
Siang ratri angelambra...
aduh nyawa luwung kasirnakna.


Apa ada yang tahu apa judulnya?

Rabu, 28 April 2010

PERMEN


Beberapa waktu yang lalu saya mendapat kiriman sekantung permen. Permen buatan sendiri, yang dipotong persegi dan dibungkus dengan kertas minyak. Seperti permen yang saya makan sewaktu kecil. Saat membuka bungkusannya saya mungkin bertingkah seperti seorang anak kecil.

Saya suka sekali permen. Saya selalu membawa kantung kecil untuk tempat permen di dalam tas saya. Walaupun sewaktu kecil selalu dinasehati untuk berhati-hati terhadap orang asing yang memberi makanan manis tapi pada kenyataannya sewaktu saya kecil eyang saya selalu membawa permen di kantungnya saat pulang dari pasar sehingga ada pikiran di kepala saya bahwa orang yang membawa permen sama sekali tidak berbahaya.

Sewaktu pergi ke Nice, saya melihat orang membuat permen. Sebuah toko kecil yang katanya telah ada sejak tahun 1910-an. Di bagian depan toko ada puluhan toples berjajar berisi aneka macam permen. Di bagian belakang toko ada dapur untuk membuat permen. Saya melihat bagaimana batang-batang permen di potong dan didinginkan di atas marmer. Permen-permen itu dibuat dengan cara tradisional tanpa tambahan bahan kimia, dan semua permen itu keras. Saya sangat suka permen keras yang memerlukan waktu lama untuk menghabiskannya. Saya keluar dari toko itu*dengan du kantung permen rasa buah-uahan. Dan untuk waktu yang lama saya mengkhayalkan memiliki pabrik permen sendiri.

Beberapa kali saya menjalin persahabatan dengan orang yang sebelumnya tidak saya kenal berawal dari permen. Duduk bersama, saling berbagi permen, mengobrol lalu orang asing pun tiba-tiba menjadi teman.
Ketika pesaan saya sedang tidak enak, resah atau putus asa, seperti ketika masih harus berjalan jauh padahal badan sudah lelah, ketika tugas-tugas menumpuk tapi tampaknya waktu berjalan sangat cepat atau ada sesuatu yang berjalan tidak seperti yang diharapkan, makan permen membuat saya bisa memikirkan hal-hal yang indah.

Dalam permen barangkali tidak ada hal lain selain zat gula dan sedikit rasa buah-buahan tapi permen tidak pernah dibuat untuk tujuan yang selain untuk menggembirakan hati. Permen adalah nutrisi untuk hati.

Jumat, 22 Januari 2010

Senin, 12 Januari 2009

KETIKA SAYA "MEREMEHKAN" PEKERJAAN PEREMPUAN

Katherine Webler adalah wanita berdarah campuran Jerman dan Rumania. Selama dua tahun ini dia merawat saya. Saya tidak bisa dipercaya kalau harus merawat diri saya sendiri. Itu kata orang terkasih saya. Apa alasannya saya tidak begitu jelas.

Katie pintar mengurus rumah. Dia dapat menjaga buku-buku saya dari debu dan makhluk kecil yang suka tinggal di dalamnya, sesuatu yang tidak bisa saya lakukan tanpa mengomel. Masakannya lumayan enak. Goulash buatannya bisa menimbulkan reaksi adiktif alias bikin ketagihan. Sifatnya yang menonjol adalah tidak suka ikut campur urusan orang.

Salah satu kebiasaan Katie yang tidak bisa saya mengerti hingga sekarang adalah menjahit kain perca. Sementara saya menghabiskan waktu luang dengan berkeliaran kesana kemari dengan kamera saya, Katie akan duduk di dekat jendela dan mengerjakan jahitannya. Potongan-potongan kain warna warni dia simpan di sebuah kantung, semacam tas dari kain belacu, sungguh mengherankan bagaimana cara dia menghafal potongan-potongan kain yang dia simpan. Saya curiga dia bahkan hafal jumlahnya. Kain-kain itu dia beli dari pasar, kira-kira 15 menit dari rumah naik sepeda, kadang-kadang dia dapat setelah menawar habis-habisan. Di pasar dia terkenal sebagai "wanita berbadan subur yang menawar harga paling murah untuk mendapatkan barang terbaik" he he he...

Sebenarnya saya senang mengerjakan macam-macam pekerjaan khas wanita seperti memasak, menjahit, menyulam dan lain-lain. Tapi saya mengerjakannya karena saya suka bukan karena saya tidak ada pekerjaan lain. Jadi kalau dalam satu waktu saya disuruh memilih antara menulis, jalan-jalan di luar sambil memotret atau pekerjaan khas wanita maka saya akan memilih meninggalkan pekerjaan khas wanita itu.

Saya sempat memandang pekerjaan yang dilakukan Katie dengan kain-kain warna warni itu adalah pekerjaan yang mudah, jenis pekerjaan yang lebih memerlukan waktu dan kemauan daripada memakai kecerdasan.

Suatu hari saya menemukan bahwa saya salah besar.

Hari itu cuaca buruk, menghalangi siapapun untuk keluar rumah. kebetulan saya juga sedang flu. Saya sudah minum sup herbal yang katanya manjur untuk flu tapi saya masih pilek juga meski sudah berkurang parahnya.

Saya duduk di sofa dan melihat Katie menjahit. Kelihatannya Katie mau membuat selimut dengan ukuran kira-kira 90 x 80 inci, dari kain katun warna krem, kain satin merah dan hijau dan kain lain yang saya tidak tahu jenisnya berwarna kuning dan cokelat. Melihat saya memandanginya Katie berkata, "Kenapa tidak mencoba membuatnya? Ini manjur untuk menghilangkan stres." Sebenarnya waktu itu dalam hati saya mengomel, persis seperti omelan Anne dalam novel Anne of Green Gables: I do not like patchwork. I think some kinds of sewing ould be nice, but there's no scope for imagination in patchwork. It's just one little seam after another and you never seem to be getting anywhere.

Tapi entah karena provokasi Katie atau karena saya memang ingin membuktikan bahwa pekerjaan yang tidak memakai kecerdasan itu benar, maka saya pun mencoba membuatnya. Kebetulan saya punya banyak kain sisa menjahit. Saya memilih kain satin warna merah anggur dan kain motif daun warna senada. Katie sedang mengejakan pola bunga-bunga di dalam keranjang. Saya kira dia akan mengajari saya membuat pola itu tapi katanya seharusnya saya membuat pola sederhana seperti log cabin. Itu membuat saya jengkel, saya cukup tahu teknik menjahit, dan log cabin itu kelihatan cuma seperti kotak-kotak yang disambung dan sama sekali tidak menarik. Lalu Katie menunjukkan macam-macam pola yang jelas mengacu pada pola untuk pemula. Saya memilih card trick. Pola itu sederhana dan mudah dan menghasilkan bentuk yang menarik. Polanya cuma terdiri dari dua buah segitiga siku-siku besar dan sebuah segitiga siku-siku kecil separo ukuran yang besar.

Untuk pertama saya membuat ukuran 30 x 30 inci, dengan menjahit pengulangannya ukurannya akan bertambah nantinya. Saya merasa yakin dapat menyelesaikannya dalam waktu kurang dari satu jam dengan dijahit tangan.

Ternyata membuatnya lumayan susah. Menyambungkan satu potongan kain dengan potongan kain yang lain ternyata memerlukan perhatian khusus. Saya merasa benar-benar menyesal telah meremehkan pekerjaan itu.

Saya baru menyadari kalau tidak ada satu pun dari pekerjaan wanita yang bisa disebut benar-benar mudah, betapapun itu terlihat sepele dan dapat dikerjakan sambil lalu. Pekerjaan wanita, meski itu cuma mengepel lantai atau membuat sup, selalu memerlukan ketekunan, rasa cinta dan tentu saja cita rasa seni.

Minggu, 14 Desember 2008

SEDIKIT NOSTALGIA, HEMINGWAY DAN KESENDIRIAN





Saya mendapatkan buku The Old Man And The Sea ketika saya masih kuliah semester satu di Malang.

Saya membelinya di pasar buku (baru dan bekas) di Jalan Majapahit. Orang menyebutnya Blok M. Tempat itu berada di sebuah jalan kecil, menurun, di bawah naungan pepohonan tua yang saking besar dan tingginya saya sampai kesulitan mengenali jenisnya. Pasar itu, kalau berbelok ke gang kecil kemudian melewati jembatan yang berada di atas sungai Brantas, akan terhubung dengan pasar burung yang menjual aneka hewan peliharaan dari burung sampai kelinci dan pasar bunga tempat macam-macam bunga dipajang dan dijual dengan harga murah. Orang menyebut tempat itu Splendid (dalam bahasa Belanda berarti indah)

Dulu saya suka berkeliaran di tempat itu satu atau dua kali seminggu. Biasanya bukan untuk tujuan yang jelas kecuali untuk cari inspirasi. Dari tempat kost saya di daerah Ketawanggedhe saya akan naik mikrolet GL atau LG, turun di Sarinah, berjalan sepanjang trotoar Jalan Basuki Rahmat lalu menyeberang ke Jalan Majapahit. Keluar masuk kios demi kios karena biasanya saya tidak jelas mau membeli buku apa jadi harus melihat-lihat dulu barangkali ada buku yang menarik. Buku-buku disana dijual murah dan banyak yang sudah tidak dijual lagi di toko buku sehingga seringkali saya merasa bangga saat melihat hasil perburuan saya sesampainya di kost. Di tempat yang sederhana itu tersimpan banyak harta karun. Di tempat itu pula awal percintaan saya dengan buku-bukunya Pramoedya Ananta Toer.

Setelah dari pasar buku biasanya saya akan berbelok ke pasar burung. Yang saya sukai adalah melihat-lihat ikan dan kura-kura. Seorang wanita harus punya hewan peliharaan karena itu menunjukkan kesehatan jiwanya. Saya tidak ingat dari mana saya dapat nasehat itu tapi saya percaya dan saya (anehnya) menyebarkan nasehat itu di depan kelas padahal saya tidak pernah sukses memelihara binatang. Pasar burung itu baunya tidak enak dan suasananya lumayan mengintimidasi. Tempat itu penuh laki-laki jarang ada wanita berkeliaran disana tapi memandangi ikan-ikan itu membuat saya bahagia.

Kalau pasar bunga jangan ditanya indah dan semarak warnanya. Baunya pun khas. Bau tanah tersiram air. Segar. Saya biasa berkeliling pasar, yang lokasinya seperti terassering karena berada di tepi sungai, dan di bagian paling bawah yang menjual bunga potong saya membeli seikat bunga mawar. Setelah itu saya pulang naik mikrolet AL. Di kamar saya akan menggantung bunga itu dalam posisi terbalik di dinding dekat jendela, memaksudkannya untuk menjadikannya potpourri, tapi hampir selalu tidak pernah jadi, kecuali satu kali pada musim kemarau, barangkali karena udara Malang terlalu lembab.

Belakangan saya dengar Blok M itu telah dipindah ke Jalan Wilis. Saya rasa segala macam pesonanya telah hilang bersama kepindahan itu.

Salah satu harta karun yang saya dapat dari perburuan itu adalah The Old Man And The Sea-nya Hemingway. Saya mendapatkannya dengan tidak sengaja saat saya gagal mencari bacaan berbahasa Jerman. Buku itu terselip begitu saja di antara novel-novel populer tidak bermutu dan majalah-majalah bekas seolah-olah itu bukan buku berharga. Saya membelinya dengan harga murah. Kondisinya bagus dan berbahasa Inggris.

Sebelumnya Hemingway yang saya kenal hanyalah artikel-artikel kecil di majalah-majalah yang menyebut namanya sebagai peraih Nobel dan orang yang mengatakan "Lapar adalah sebuah disiplin yang baik" yang saya setujui seratus persen. Setelah membacanya saya merasa mengenalnya dengan cara lebih baik.

The Old Man And The Sea bisa dibilang karya yang terhormat. Saya menganggapnya begitu. setidaknya saya tidak akan malu untuk membacakannya di depan kelas atau menghadiahkannya pada orang yang saya hormati. Tidak hanya karena Hemingway menggunakan kosa kata yang bisa diterima oleh norma kesopanan tetapi juga karena isinya mengandung nilai moral yang dalam.

Tokoh-tokoh dalam tulisan-tulisan Hemingwaykebanyakan adalah orang-orang yang "terpisah" dari dunia sekitarnya. Semacam gaya hidup solitaire yang tercipta karena keadaan. Barangkali itu karena pribadi Hemingway yang suka "berkeliaran" karena pekerjaannya sebagai jurnalis dan kesukaannya untuk "menjadi orang asing" karena sering berpindah tempat tinggal. Atau barangkali juga karena pengaruh politik pasca Perang Dunia II. Hemingway kelihatannya menganggap seseorang yang dapat mengatasi masalah dalam kesendiriannya maupun yang timbul akibat pola hidup solitaire itu sebagai sesuatu yang heroik.

Kesendirian dalam tahap tertentu kadangkala dapat merusak kewarasan seseorang, dapat membuatnya sulit membedakan antara emosi dan pikiran, merupakan kata lain dari inkonsistensi dan ketidakstabilan secara mental. Orang yang dalam kesendiriannya tetap bisa mengendalikan dirinya, dengan segala macam standar etika dan moral seperti apabila dia hidup bersama sebuah masyarakat dan eksis di dalamnya, pada saat tidak ada pihak lain selain dirinya yang berinteraksi dengannya, dalam keadaan yang memungkinkannya untuk bertindak semaunya sendiri dalam arti yang benar-benar harfiah, menurut saya pastilah orang yang mengagumkan.

Sabtu, 29 November 2008

SNOW



Saya membeli buku ini pada awal tahun ini. Saya ingat ketika itu bunga border carnation warna merah tua di depan rumah saya mekar untuk pertama kalinya.

Saya punya perasaan tertentu terhadap salju. Saya dapat mengatakan bahwa salju itu benar-benar sangat indah tetapi saya cenderung menjadi lemah di musim dingin jadi judul buku itu membuat saya merasa tidak enak hati. Namun karena beberapa alasan (yang menulis adalah Orhan Pamuk, beberapa teman saya yang mencintai sastra mengatakan bahwa buku itu sangat bagus dan saya merasa sudah begitu kelelahan membaca dan terus membaca ulang Beauty and Sadness karya Yasunari Kawabata) maka saya membelinya.

Saya merasakan perasaan yang tidak enak saat membacanya bahkan sejak bab pertama. Saya selalu merasakan perasaan yang tidak enak setiap kali membaca buku yang di kemudian saya cintai seperti misalnya buku-bukunya Pramoedya Ananta Toer atau Kawabata itu. Saya tidak selalu bisa dengan gamblang menjelaskan bagaimana sebenarnya perasaan yang tidak enak itu namun bisa saya katakan bahwa rasanya mirip dengan saat saya melihat ranting-ranting pohon yang berwarna gelap dengan latar belakang senja kemerahan di film Gone With The Wind.

Perasaan tidak enak itulah barangkali yang membuat saya tidak juga selesai membacanya bahkan sampai sekarang. Membaca buku ini saat musim dingin sungguh pilihan yang buruk tapi buku ini sangat indah. Sangat menyedihkan namun begitu indah. Seperti kata-kata Ka: "Were the streets empty because of the snow or were these frozen pavements always so desolate?"

Jumat, 28 November 2008

LOVE AND FRIENDSHIP


Love is like the wild rose-briar,

Friendship like the holly-tree

The holly is dark when the rose-briar blooms

But which will bloom most constantly?


The wild-rose briar is sweet in the spring,

Its summer blossoms scent the air;

Yet wait till winter comes again

And who will call the wild-briar fair?


Then scorn the silly rose-wreath now

And deck thee with the holly's sheen,

That, when December blights thy brow,

He may still leave thy garland green.


by Emily Bronte

Senin, 24 November 2008

THREE CUPS OF TEA



Dua hari ini saya merasa tidak enak badan. Semangat yang tinggi seharusnya menumbuhkan energi yang melimpah tapi tubuh saya selalu bereaksi secara aneh terhadap apa yang disebut semangat yang tinggi itu. Kadang saya berpikir tubuh adalah sebuah bukti yang paling nyata mengenai keterbatasan-keterbatasan yang saya miliki.

Beberapa hari lalu saya terdorong untuk membeli buku Three Cups of Tea karena seorang teman menyukainya. Dia seorang yang sopan dan manis (Entah kenapa pria Sunda yang saya kenal selalu sangat sopan dan manis. Mungkin karena mereka suka makan lalapan. Hubungane gek yo opo ngono lho) sebagaimana layaknya seorang ikhwan yang terpelajar. Dia seorang yang serius mengusahakan layanan kesehatan cuma-cuma untuk masyarakat kurang mampu.

Buku itu terbit sekitar tahun 2006 (di Amerika dan Eropa) sehingga sewaktu saya membelinya saya perlu mencari agak lama di toko buku. Three Cups of Tea buku yang lumayan bagus. Kisah nyata tentang seorang yang mengusahakan pendidikan bagi anak-anak miskin di pedalaman pegunungan Karakoram di Pakistan. Perjuangan yang berat karena tempat itu sulit dicapai. Bahan bangunan untuk sekolah bahkan harus dipikul berpuluh-puluh kilometer melewati lembah dan tebing yang terjal. Buku ini menceritakan apa yang disebut sebagai semangat yang tinggi itu. Saya pikir alangkah lebih bagusnya seandainya buku ini ditulis oleh seorang muslim agar penjelasan dan pemahamannya tentang beberapa aliran dalam Islam menjadi lebih benar.


Di bagian awal buku ini tertulis kira-kira seperti ini:
"Jika kamu disuguhi teh (di tempat kami) cangkir pertama berarti kau masih seorang yang asing, cangkir kedua berarti kau seorang teman yang dihormati, pada cangkir ketiga kau sudah menjadi keluarga (kami) Keluarga yang bersedia melakukan apa saja, bahkan mati (demi dirimu) "

Mengharukan.

Well, berapa cangkir teh yang sudah kita minum bersama-sama, teman-teman?

Senin, 17 November 2008

DID I MENTION THAT I LOVE YOU?


Saya sangat suka bercakap-cakap. Di dalam bis, di kampus, di jalan, di mana pun, selama memungkinkan untuk melakukannya, saya pasti akan mengajak siapapun di dekat saya untuk bercakap-cakap.


Bagi saya makanan yang lezat, teman yang setia dan obrolan yang cerdas adalah keindahan dunia, sesuatu yang menginspirasi dan menggairahkan.


Saya memperoleh banyak hal dari kegiatan bercakap-cakap itu. Biasanya sebuah persahabatan yang saya jalin dengan seseorang dimulai dari percakapan-percakapan itu.


Hal yang paling tidak saya sukai dalam sebuah percakapan, jika itu adalah sebuah percakapan yang menyenangkan, adalah ketika saya harus mengakhirinya.


Belakangan saya punya kebiasaan mengganti kalimat See you next time sebagai kalimat perpisahan dengan kalimat Did I mention that I love you?


Reaksi yang saya terima tentunya bermacam-macam. Jawaban yang paling sering saya dapatkan berkisar antara senyum atau mringis atau bertanya-tanya atau gaya cowboy. Kadang juga berupa ucapan I love you too, ini biasanya dari orang-orang tercinta. Kadang juga memicu diskusi panjang lebar. Seorang keponakan saya yang menjadi seniman di Jakarta mengatakan kalau kalimat itu lumayan "memanikkan" orang dan menganggap saya sedang "menggarap" dia (garap dalam bahasa pedalangan bisa berarti mencandai)


Saya sendiri tidak menganggap kata I love you sebagai kata yang harus diucapkan secara hati-hati. Kadang perasaan sayang di dalam hati saya terhadap seseorang begitu membuncah dan karena saya tidak mungkin melakukan hal konyol seperti berlari dan gabruk memeluknya, sementara saya merasa perlu menunjukkan rasa sayang itu maka saya pikir kata I love you dapat menjalankan fungsi itu dengan baik.


Sebenarnya saya tidak mengharapkan apa-apa dan tidak bermaksud apa-apa di balik kata-kata Did I mention that I love you? itu kecuali untuk melegakan hati saya saja. Orang yang mendengarnya pun tidak saya harapkan untuk menanggapinya dengan serius. Saya malah setengah berharap ucapan itu akan dijawab seperti dalam salah satu adegan film: Yes, you did. Get out, loser . Dan saya pikir that's enough for a loser like me. He he he...

Jumat, 14 November 2008

AGE OF INNOCENCE



Mengapa kita yang memintal kenangan

tak pernah ingat untuk membujuk waktu

agar merayap dengan sangat pelan

padahal kita segera dijemput kematian?



Mengapa kita ikat simpul cinta kuat-kuat

padahal di satu senja kita akan melepasnya

dengan sisa kelemahan yang kita punya

dan napas kita selalu patah?


Sayangku, cinta dan doaku adalah sayap yang akan menjagamu

dari hujan paling basah dan cuaca paling kerontang.


Catatan:

Puisi diatas dikutip dari karya Nurul Lathifah

Senin, 08 September 2008

I'M SO SORRY, I'M JUST MYSELF

Kecuali orang yang memang punya gangguan kejiwaan, saya rasa tidak ada orang yang suka ataupun merasa baik-baik saja ketika melakukan suatu hal yang salah. Barangkali segala hal di dunia ini bukanlah urusan benar atau salah saja tetapi bagaimana pun juga tetap saja ada hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Saya pun demikian. Saya menetapkan peraturan bagi diri saya sendiri bahwa ada hal yang boleh dan tidak boleh saya lakukan. Dan ketika saya melanggarnya, apapun alasan dari perbuatan pelanggaran itu, saya toh tetap merasa tidak baik-baik saja.

Sebagaimana semua orang yang lain, saya pun mempunyai angan-angan, impian, pemikiran, pemahaman dan idealisme yang kesemuanya itu mencirikan kepribadian saya. Sekalipun ungkapan berubah menjadi lebih baik dapat saya terima sebagai sesuatu yang positif tapi saya menyadari ada hal-hal tertentu di dalam diri saya yang tidak mungkin saya ubah, baik secara sengaja maupun karena “dipaksa”. Saya tidak dapat membohongi diri saya sendiri maupun orang lain dengan mengatakan bahwa saya dapat berubah demi mereka. Berusaha mengubah orang lain pun adalah perbuatan membohongi diri sendiri. Sudah tentu saya ingin diri saya maupun orang-orang yang saya cintai menjadi lebih baik tapi bahkan seandainya tidak ada kata menjadi lebih baik itu, misalnya seandainya pun mereka tetap menjadi sebagaimana adanya mereka, dengan semua keistimewaan dan kekurangan mereka, saya toh sudah menerima mereka sebagai bagian penting yang mengisi hidup saya.

Ketika saya berada dalam keadaan hampir kehilangan rasa cinta seseorang kepada saya hanya karena saya menjadi diri saya sendiri, bahwa saya tidak sempurna, bahwa saya mempunyai kekurangan, saya memandang kembali pada apa yang membuat saya memasukkan diri saya dalam lingkaran cinta itu. Saya menemukan bahwa penerimaan dirilah yang menjadi alasannya. Bahwa saya bersedia berbagi hidup yang tidak sempurna, atau lebih tepatnya berbagi diri saya yang tidak sempurna, dengan mereka untuk sebuah tujuan yang saya percaya sebagai tujuan mulia yaitu menjadi manusia. Kalau kemudian saya dituntut untuk mengingkari penerimaan itu, misalnya dengan berupaya untuk selalu tampil sempurna dan tanpa cacat cela, maka dengan besar hati saya akan melangkah keluar dari lingkaran itu dan berkata I’m so sorry, I’m just myself.

Minggu, 11 Mei 2008

APAKAH DUNIA INI MEMERLUKAN SAYA?


Pertanyaan itu pada mulanya hanyalah sebuah pertanyaan dalam komik Jepang yang berjudul Fruit Basket karya Natsumi Takaya. Namun belakangan ini saya memikirkan pertanyaan itu.

Tidak peduli siapapun yang lahir ataupun mati, dunia ini tetap tidak berubah. Siang dan malam tetap datang silih berganti seperti biasa. Kalau dipikir-pikir pastinya dunia ini sama sekali tidak memerlukan seorang pun. Apalagi orang dengan kapasitas seperti saya. Barangkali itu ada benarnya tetapi menyadari hal itu menimbulkan kesedihan dan rasa sepi yang tidak terhingga di dalam hati.

Saya sering menghitung kelebihan dan kekurangan yang saya miliki. Dan betapapun saya berpikiran positif terhadap diri saya sendiri (narsis maksudnya) tetap saja saya mendapati kekurangan saya lebih banyak dari kelebihan saya.

Saya merasa tidak punya andil di dunia ini. Bahkan meskipun saya setiap hari pulang pergi ke kampus, menghadapi anak-anak muda yang menganggap pekerjaan saya sebagai sesuatu yang romantis dan heroik, saya tetap merasa tidak enak hati karena seringkali ilmu pengetahuan itu kehilangan kemuliaannya kalau kita mencari nafkah darinya.

Kadang-kadang saya merasa berada di luar lapangan, bertindak seperti seorang pengamat, walaupun sebenarnya saya tidak punya hak untuk itu, tidak ikut bermain, tetapi begitu melihat betapa buruknya permainan yang berlangsung, betapa banyak kecurangan yang terjadi, saya kemudian bersikap sinis. Kesinisan itu makin lama makin parah. Barangkali itulah yang makin menjauhkan saya dari arena.

Seorang teman dekat saya, yang biasa mengamati saya dengan pandangan yang sangat kritis, mengatakan kalau keadaan saya membuat orang jengkel. Menurutnya raut muka dan sikap saya seringkali seolah berkata dunia berputarlah sesuka hatimu aku tidak peduli. Saya tidak merasa punya pemikiran semacam itu tetapi kalau dikatakan bahwa saya tidak mempunyai ekspektasi-ekspektasi terhadap dunia ini nah itu barangkali ada benarnya.

Rabu, 30 April 2008

BULAN PAGI HARI


Saya sangat suka bulan di pagi hari. Warna langit di sekitarnya, yang belum sepenuhnya terlihat karena masih terdapat sisa-sisa malam, menambah kepucatan warna peraknya. Bulan di malam hari memang terlihat misterius dan sangat indah tapi bulan di pagi hari indah luar biasa.

Barangkali karena sebentar lagi matahari akan terbit dan tentu saja berarti bulan harus melenyap dengan suka rela maka keindahan itu terlihat sangat nyata. Waktu yang singkat membuat keindahan terpancar dengan lebih intens.

Melihat bulan di pagi hari membuat saya berpikir segala sesuatu mempunyai masa paling indahnya masing-masing. Ada yang masa paling indahnya adalah saat pertama kemunculannya seperti bunga misalnya. Ada juga yang masa paling indahnya justru di akhir keberadaannya seperti bulan di pagi hari itu. Yang mana pun di antara keduanya saya pikir yang paling penting adalah memaknaan keberadaan itu sendiri. Saat ini saya belum mampu menemukan contohnya tapi di dunia ini pasti ada hal menjadi indah karena ada.

Selasa, 22 April 2008

CAPUNG


Saya sangat suka capung. Binatang kecil bersayap itu selalu mengingatkan saya akan masa kecil saya. Melihat capung beterbangan, terutama ketika sehabis hujan atau saat hujan gerimis, saya merasakan sesuatu di dalam hati saya. sebuah perasaan yang sentimentil.

Saya dibesarkan di sebuah desa di kabupaten Ponorogo. Semasa saya masih kecil hewan semacam capung, burung manyar, kupu-kupu dan bangau tong-tong masih bisa ditemui dalam jumlah yang melimpah. Di dekat rumah saya terdapat sebuah sungai dan karena capung berkembangbiak dan meletakkan telurnya di daerah perairan maka banyak capung beterbangan di sekitar rumah saya. Saya dan adik saya suka sekali menangkapi capung. Bukan untuk suatu tujuan tertentu melainkan karena ingin saja, biasanya kami akan melepaskan kembali capung itu setelah beberapa menit kami menangkapnya.

Di antara banyak jenis capung yang ada, saya paling suka capung merah (Sympetrum internum) tetapi jenis ini lebih susah ditemui dan terkenal sangat gesit dan selalu waspada sehingga susah ditangkap.

Berdasarkan yang saya pelajari di universitas capung merupakan musuh alami dari hama ngengat dan walang sangit sehingga keberadaannya menguntungkan petani. Capung juga dipakai sebagai bioindikator untuk mengetahui kualitas air di suatu perairan karena biasanya capung hanya mau meletakkan telurnya di perairan yang bebas polusi.

Saya berharap akan selalu ada capung-capung merah yang beterbangan karena itu menandakan alam yang sehat dan bebas polusi. Dan saya mengharapkan itu.

Minggu, 23 Maret 2008

PEKERJAAN YANG BAIK DAN MULIA

Pekerjaan yang bagaimanakah yang disebut baik dan mulia itu?

Barangkali seperti gambaran dalam cerita-cerita kepahlawanan tentang seseorang yang bekerja keras tanpa mengharapkan upah dari pekerjaannya kecuali hanya niat untuk mengubah dunia menjadi sedikit lebih baik, menjadi tempat yang lebih nyaman untuk ditinggali.


Barangkali seperti kisah tentang guru yang mengajar anak-anak di suku pedalaman, atau tentang dokter yang mengabdi di pulau terpencil, atau tentang seorang nelayan yang menanam pohon tinjang (salah satu jenis bakau) sepanjang garis pantai hingga sempat dikatakan gila sebelum kemudian usahanya itu terbukti mampu melindungi desanya dari bahaya abrasi sekaligus mengundang datangnya ikan-ikan ke hutan bakau itu sehingga nelayan di daerah itu tidak perlu melaut terlalu jauh untuk bisa menangkap ikan, dan masih banyak lagi cerita semacam itu.


Kisah-kisah itu mampu membuat orang yang berhati lembut meneteskan air mata karena terharu, mampu membuat orang-orang yang punya daya kreasi menjadi terinspirasi dan mampu membuat orang-orang yang punya pikiran negatif dan bersikap pesimis terhadap kehidupan akan berpikir bahwa masih ada orang yang baik di dunia ini.


Kisah-kisah itu menarik tidak hanya karena jalan ceritanya tetapi lebih karena tokoh-tokoh dalam cerita itu tidak menyadari bahwa dirinya telah melakukan suatu kebaikan dan kemuliaan, kecuali bahwa mereka melakukan pekerjaannya karena mencintai pekerjaan tersebut.


Mencintai pekerjaan, melakukannya dengan sungguh-sungguh, dengan niat dan tujuan yang baik, barangkali adalah syarat mutlak agar suatu pekerjaan bisa dikategorikan baik dan mulia.


Mengenai pekerjaan saya cenderung mengaitkannya dengan sebuah fungsi dalam sistem kehidupan. Bukankah cara paling gampang untuk tahu kegunaan seseorang dalam kehidupan adalah dengan melihat apa yang dikerjakannya? Meskipun tentu saja kadangkala, dalam beberapa kasus, pekerjaan tidaklah mencerminkan jati diri seseorang, terutama pekerjaan yang dilakukan hanya supaya bisa mendapat uang untuk membayar sewa.


Saya percaya dunia ini adalah sebuah sistem besar dengan sekian banyak komponen yang berkaitan satu sama lain. Jika salah satu komponen tidak melaksanakan fungsinya dengan baik maka kelangsungan kerja sistem itu akan terganggu. Komponen iu adalah manusia, fungsinya adalah pekerjaan dan sistemnya adalah kehidupan itu sendiri.


Saya percaya satu kebaikan akan melahirkan sekian banyak kebaikan yang datang menyertai kebaikan yang pertama. Demikian juga dengan kemaksiatan. Orang harus benar-benar memikirkan setiap hal yang dia lakukan dan bertanggungjawab atas semua resikonya baru dengan begitu dia dapat disebut memiliki martabat kemanusiaan, memiliki sebuah fungsi.


Saya pikir profesionalisme dalam pekerjaan adalah seperti sebuah sentuhan seni dalam sebuah karya, merupakan nilai estetika dari sebuah kewajiban. Satu pekerjaan yang baik yang dilakukan dengan baik dengan tujuan yang baik akan mampu menjadikan dunia ini menjadi lebih indah.

Jumat, 21 Maret 2008

RASA YANG TERSEMBUNYI


Siapakah yang membuat nasi goreng pertama kali?

Saya rasa dia pasti seorang yang jenius. Atau, bila itu memang suatu yang tidak disengaja, seperti orang yang merebus air minum di alam terbuka lalu kejatuhan daun yang kemudian peristiwa itu kita kenal menjadi cikal bakal tradisi minum teh, maka bisa dibilang itu adalah sebuah kecelakaan yang indah.

Saya tidak tahu ada apa di dalam nasi goreng itu hingga saya tidak pernah bosan memakannya.

Padahal nasi goreng itu masakan yang sangat sederhana yang tidak memerlukan kecakapan dan seni kuliner yang rumit dalam proses pembuatannya.

Bahannya pun sederhana dan ada di dapur manapun kecuali dapur yang fungsinya cuma melengkapi keutuhan desain interior sebuah rumah alias tidak benar-benar difungsikan sebagaimana fungsi aslinya sebagai tempat memasak. Bahan-bahan itu adalah nasi (termasuk sega wadang atau nasi sisa makan malam sebelumnya), bahan pelengkap (telur dadar, sosis, daging ayam, udang, teri medan dll bisa merupakan kombinasi beberapa macam bahan sekaligus atau cuma satu macam saja), sayuran (mentimun, daun bawang, daun selada) dan bumbu (bawang putih, bawang merah, cabai, garam, terasi dll tergantung improvisasi) tentu saja yang saya sebutkan itu tadi semuanya ditambahi kata sesuai selera dan kalau kebetulan ada.

Cara memasaknya pun cuma berprinsip pada teknik sederhana yaitu mengulek, menumis dan mencampur.

Menurut saya nasi goreng itu adalah makanan yang simple sekaligus complicated.

Saya pernah membaca tulisan Umar Kayam yang dimuat di harian umum Kedaulatan Rakyat. Di salah satu kolomnya itu dia menulis tentang nasi goreng. Nasi goreng itu menjadi favorit seluruh keluarga. Ketika si pembuat nasi goreng special itu hendak menurunkan resep rahasianya kepada keluarganya, lewat acara demo masak kecil-kecilan, sementara dia menjelaskan dengan panjang lebar eh ternyata keluarganya justru terus menerus menanyakan dimana letak rahasianya? Wong tekniknya ya standar-standar saja. Mereka minta dijelaskan intinya kenapa bisa membuat nasi goreng yang begitu enak. Si pemilik resep jadi bingung dan akhirnya resep itu tidak bisa diilmiahkan. Artinya meski memakai bahan dan teknik memasak yang sama tapi tetap saja hasilnya lain.

Saya rasa setiap orang yang suka memasak punya kemampuan masing-masing untuk memunculkan rasa yang tersembunyi dari masakan yang dibuatnya. Rasa yang tersembunyi itu menjadi ciri khas dari masakan seseorang, menjadikan masakan menghasilkan cita rasa berbeda-beda walaupun memakai resep yang sama.

Sayangnya rasa yang tersembunyi itu kadang menjadi sebuah konsep yang begitu absurdnya sehingga susah dijelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami orang lain. Tapi dalam menghadapi makanan lidah memang tidak memerlukan bahasa.

Barangkali saya suka nasi goreng itu karena adanya rasa yang tersembunyi tersebut.

Minggu, 16 Maret 2008

INGATAN


Hari ini saya mengirimkan sms berbunyi "Boleh aku mengambil ingatanmu tentang aku?" ke beberapa orang teman dekat.

Jawaban yang saya peroleh bermacam-macam:
1. What does it mean?
2. Kenapa?
3. Memangnya bisa?
4. Memangnya boleh?
5. Buat apa?
6. Aku tidak siap untuk operasi otak malam-malam begini
7. Apa yang kamu khawatirkan? Aku toh tidak akan mengancammu dengan ingatan itu
8. Mungkinkah kita berteman dengan seseorang tanpa mempunyai ingatan apapun tentangnya?

Well, itulah kesenangan saya akhir-akhir ini, mengganggu orang-orang yang menyebut diri saya sebagai temannya atau lebih tepatnya orang-orang yang selalu saya sebut-sebut sebagai teman saya.

Belakangan ini, barangkali karena saya punya banyak waktu luang hingga bisa mikir yang tidak-tidak, saya sering membayangkan menjadi seorang yang keberadaannya tidak ada di dalam ingatan siapapun. Ada yang kelihatan tidak ada atau tidak ada tapi ada. Kadang-kadang saya berpikir itu adalah konsep yang keren dan membuat iri.

Bagaimanakah sebuah ingatan terbentuk?

Kita, manusia, merupakan makhluk yang penuh dengan fenomena dualisme. Dalam sisi apapun kita selalu punya dua cara pandang: secara konseptual, dalam hal ini segala hal yang bersifat faktual, fisik, empiris dan masuk akal; dan secara konstektual, yang berkaitan dengan perspektif, bersifat sangat personal dan seringkali susah dijelaskan dengan bahasa ilmiah karena melibatkan adanya faktor pengacau paling parah yaitu perasaan.

Ketika berhadapan dengan sesuatu, entah itu orang, peristiwa atau benda, kita hampir selalu menilainya dengan dua cara pandang itu. Sebuah informasi yang masuk ke otak kita pun mengalami proses pemecahan dengan dua program itu. Misalkan ketika saya melihat buah apel, saya akan mendeskripsikannya berdasarkan kesempurnaan bentuknya, kecemerlangan warnanya, kesegarannya dan beberapa fakta tentang buah itu yang telah saya baca dari buku. Tetapi di lain pihak, selain kenyataan bahwa saya tidak begitu suka makan buah apel, kecuali kalau sedang berada di bawah ancaman kekerasan yang dilakukan oleh dokter saya tercinta, dan apel sering saya gunakan untuk obyek lukisan, saya juga menilainya sebagai sesuatu yang melambangkan keintiman, sebuah larangan dan penanda bentuk-bentuk kekecewaan yang berkepanjangan. Bukankah perang Troya itu kalau dirunut berawal dari protes Eris karena tidak diundang pesta sehingga mengirimkan apel emas dan sebagai dampaknya Paris harus terjebak dalam pilihan-pilihan yang rumit? Saya tidak tahu apakah orang lain juga berpikir hal yang sama tetapi saya bisa melihat dampaknya. Misalkan ketika melihat tikus saya dapat secara refleks melakukan hal-hal yang memalukan seperti naik meja umpamanya sementara teman saya biasa-biasa saja saat melihat binatang yang sama.

Saya kira informasi yang kita terima, yang kemudian menjadi data yang tersimpan dalam otak, dan merupakan cikal bakal ingatan, mengalami banyak hal, mungkin semacam adding dan cutting, sehingga seringkali kumpulan data otak tidak berada dalam wilayah realita yang sama dengan ingatan. Ingatan bisa berada di luar konsep ilmiah semacam itu.

Senin, 10 Maret 2008

PERPISAHAN


Beberapa hari terakhir saya berusaha mengurai kebodohan masa lalu saya dan mencoba mencari pemaafan dari diri saya sendiri.

Saya menyambung kembali komunikasi dengan beberapa orang yang sebelumnya kepadanya telah saya ucapkan selamat tinggal, baik secara verbal maupun secara implisit bahwa saya tidak ingin lagi bersinggungan dengan mereka dalam garis hidup yang saya jalani. Orang-orang ini meskipun tanpa melakukan apa-apa keberadaan mereka toh sudah sama saja dengan berteriak, "Kami pernah menjadi bagian dalam hidupmu. Kamu tidak bisa dong menolak kami ataupun menghapus kami. Dalam garis perjalanan hidupmu akan tetap ada bagian yang berisi kami. Dan kamu toh tidak bisa mengubah masa lalu."

Bagi saya yang berpendapat bahwa di dunia ini kekurangajaran yang paling kurangajar dan tidak termaafkan adalah apabila seseorang merasa memiliki kehidupan orang lain, maka membayangkan bahwa ada orang yang berpikir hal yang demikian membuat saya jengkel setengah mati.

Orang-orang yang saya sebutkan di depan adalah orang-orang yang berada dalam rentang waktu yang sama dengan saat saya melakukan hal-hal yang salah dan bodoh, dan karena saya tidak bisa memaafkan diri saya yang telah melakukan kesalahan dan kebodohan itu maka saya selalu mengingat masa itu dan demikian juga dengan orang-orang tersebut. Dan disebabkan hal itu maka sama saja saya tetap membiarkan mereka berada bergelantungan dalam garis hidup saya sehingga bahkan ucapan selamat tinggal, dengan segala macam prosesinya pun, tidak mampu 'menghilangkan' status 'ada' itu.

Awalnya saya berpura-pura tidak terganggu dengan hal itu, bahwa semua orang pasti juga mengalami hal yang sama, kalau mereka bisa mengatasinya kenapa saya tidak? Saya menjalani hidup saya sendiri, merasa asyik dengan semua urusan yang menjadi kewajiban saya untuk mengurusnya. Tapi kenyataan bahwa sesuatu sedang bergelantungan dalam hidup saya itu sama sekali bukan hal yang bisa diabaikan. Pada waktu-waktu tertentu, ketika saya bermain dengan kenangan saya merasakan gangguan itu.

Barangkali akan sangat tidak adil jika saya katakan orang-orang ini sebagai embel-embel yang tidak penting, karena bagaimanapun seseorang tetaplah somebody dan bukan nobody, tapi ketika saya berusaha sangat jujur mengakui perasaan yang saya rasakan terhadap mereka, betapapun itu kedengaran sangat jahat dan egois, tapi saya memandang mereka memang sebagai embel-embel yang tidak penting. Saya berharap tidak perlu berurusan lagi, dalam arti harfiahnya, dengan mereka. Saya akan mengucapkan "Maaf atas semua kesalahan. Terima kasih untuk semuanya. Selamat tinggal." lalu menghilang secepat mungkin.

Saya tidak suka pergi sementara masih ada urusan duniawi yang belum saya selesaikan. Dengan mengatakan kalimat itu saya pikir urusan duniawi itu sudah selesai.

Tapi terhadap orang-orang itu selalu masih ada urusan duniawi yang tertinggal.

Bahwa saya senang bermain-main itu memang benar, tapi ketika kemudian saya melakukan kesalahan dan kebodohan yang tidak perlu dan harus membereskan akibat yang ditimbulkannya, lama-lama membuat saya menempatkan diri saya di suatu wilayah bernama kehancuran. Saya selalu dikejar-kejar oleh kewajiban untuk membereskan, tidak peduli bisa dibereskan atau tidak, penting untuk dibereskan atau tidak. Saya lelah dengan ketidakberesan yang saya timbulkan. Bisa saja saya katakan "I've done with everything" tapi orang-orang itu ada disana, menatap saya dan diam-diam menjadi saksi atas ketidakberesan itu.

Belakangan saya berusaha menghadapi kesaksian-kesaksian itu. Cara terbaik untuk lepas dari masalah adalah dengan menghadapinya. Saya bicara untuk membereskan masalah. Tentu saja dimulai dengan sejumlah basa basi sebelum saya mengatakan apa yang saya rasakan kepada mereka, berusaha menjelaskan dan meluruskan kesimpulan kusut yang terlalu cepat kami buat di masa lalu tentang sebuah masalah hingga pada akhirnya saya mengatakan kalimat itu.

Betapa terkejutnya saya ketika ternyata mereka nyaris semuanya bereaksi dengan reaksi yang menunjukkan seolah-olah saya telah melakukan hal yang sangat konyol dengan membahas masalah sesepele itu. Dari keseluruhan reaksi yang saya dapat rasanya cukup mewakili jika dipakai kata-kata, "Apa yang tidak ada harus dianggap dan diperlakukan seperti apa yang tidak ada."

Pada akhirnya saya menyadari betapa pun inginnya kita mengucapkan selamat tinggal pada sesuatu belum tentu kita dapat berpisah dengannya. Karena pertemuan dan perpisahan adalah sesuatu yang terlepas sama sekali dari peran suatu hasrat yang bernama keinginan.

Jumat, 07 Maret 2008

CINTA


Saya pernah, pada suatu masa dalam hidup saya, jatuh cinta pada seorang teman kuliah saya. Orangnya biasa-biasa saja. Dia tidak sangat tampan dan juga tidak sangat pintar. Pokoknya dia kelihatan biasa-biasa saja.

Namun sebagaimana yang telah kita ketahui bersama bahwa kesan pertama bisa saja tidak cukup mewakili kepribadian seseorang. Setelah mengenalnya saya melihat banyak kelebihan yang dia miliki. Dia punya selera humor yang bagus, merupakan seorang teman yang setia, seorang pria yang punya komitmen tinggi terhadap apapun yang sedang dia lakukan, dia punya pandangan yang luas dan mendalam terhadap kehidupan, dia seorang gentleman sejati yang menghormati wanita dan sopan santunnya luar biasa. Pada suatu hari dia mengunjungi saya. Waktu itu saya sedang berada dalam keadaan mempertimbangkan untuk menjelaskan perasaan saya yang sangat rumit itu kepadanya. Dia seorang yang menghargai persahabatan sehingga perasaannya kepada saya tidak pernah melangkah lebih jauh dari sekedar perasaan kasih sayang terhadap saudara. Dia terlalu terhormat untuk melakukan hal itu. Tiba-tiba harus bertemu dengannya pada saat seperti itu membuat saya sangat malu -karena saya merasa seolah-olah telah melakukan sebuah dosa meskipun saya tahu perasaan adalah hal terjujur yang bisa dialami seorang manusia dan bagaimanapun saya menginginkannya toh perasaan tidak pernah bisa disensor- sehingga akhirnya saya mengatakan bahwa saya tidak ingin bertemu dengannya. Dan sebagaimana akhlak seorang tamu yang baik ketika diminta pulang maka dia pun pulang. Pengertian dan rasa pemaklumannya terhadap saya membuatnya bersikap sangat bijaksana dengan tidak mempermasalahkan kejadian itu sama sekali dan tetap bersikap sebagai seorang teman yang baik. Itu adalah satu perwujudan kecil dari kepribadiannya yang baik. Mungkin disebabkan karena kelebihannya itu maka kemudian di mata saya dia menjadi terlihat sangat indah.

Persahabatan kami diawali dengan kata-kata dan sebenarnya memang seperti itulah bentuk hubungan kami baik dulu maupun sekarang. Saling mengirim puisi dan membahas masalah-masalah yang barangkali bagi orang lain merupakan topik yang membosankan. Saya merasa kata-katanya yang dia kirim kepada saya khusus dibuat dan disusun untuk saya dan saya merasa memiliki kata-kata itu untuk diri saya sendiri. Seringkali saya 'terbunuh' oleh kata-katanya. Saya pikir saya mencintai isi kepala dan kedalaman jiwanya.

Seiring dengan berjalannya waktu secara aneh saya menemukan ada begitu banyak kesamaan dalam diri kami. Misalnya kami sama-sama menyukai Raindrop-nya Chopin dan kami menikmati berjalan-jalan di alam bebas. Mungkin seperti kata-kata Kahlil Gibran bahwa kita mencintai seseorang karena kita melihat diri kita di dalam diri orang itu. Bagi saya dia adalah sebuah bentuk kalimat jadi dari apa yang tidak mampu saya ucapkan dari apa yang ada di dalam kepala saya. Semacam translator untuk memahami apa yang tidak saya sadari sudah saya pahami.

Saya mungkin salah satu orang yang memahami cinta dengan konsep berbeda. Perasaan saya kepadanya saya maknai sebagai sesuatu yang membuat saya lebih memahami kemanusiaan saya, membuat saya melepaskan diri sedikit demi sedikit dari obsesi konyol saya tentang kesempurnaan dan membuat saya mampu belajar dari sifat ketidaksempurnaan yang melekat dalam diri saya sebagai manusia biasa. Perasaan saya kepadanya adalah satu hal yang patut saya syukuri sebagaimana saya pun harus mensyukuri keberadaan saya sebagai manusia. Saya berharap bisa membawa perasaan itu kepada sesuatu yang bersifat spiritual.

Saya seringkali mempertanyakan rasa cinta saya terhadapnya, apakah merupakan perwujudan dari ketertarikan purbawi saya terhadap lawan jenis, apakah merupakan pengertian lain dari kekaguman saya terhadap suatu bentuk keindahan sekaligus keinginan untuk memiliki keindahan itu atau apakah rasa cinta saya itu merupakan cinta yang sesungguhnya.

Ketertarikan terhadap lawan jenis meskipun merupakan penyebab paling wajar dalam terciptanya hubungan antara laki-laki dan perempuan, tetapi menurut saya merupakan alasan paling buruk dari sebuah persahabatan dan jelas tidak akan saya pakai dalam menjawab pertanyaan apapun tentang hubungan kami.

Kekaguman akan keindahan menyebabkan orang ingin memiliki keindahan itu. Entah untuk alasan karena dirinya tidak indah sehingga perlu dilengkapi dengan keindahan itu ataukah cuma sebagai pajangan saja. Saya seorang yang menyukai keindahan tetapi saya rasa saya lebih menyukai keberadaan keindahan itu tetap pada tempatnya sebagaimana dia diciptakan daripada saya mengambil dan meletakkannya dalam ruang pribadi saya. Meskipun pada saat-saat tertentu saya berkhayal berkuda berdua dengannya menyusuri lembah dan melihat matahari terbenam bersama tetapi saya rasa saya lebih suka melihatnya berada dalam keadaan di luar khayalan saya, sibuk dalam dunia nyatanya.

Saya tidak tahu banyak tentang cinta. Cinta yang saya tahu barangkali cuma cinta yang ada dalam kitab-kitab, dalam puisi atau dalam film. Saya rasa cinta adalah sebuah konsep ide yang sangat kompleks. Selalu lebih mudah menjalani cinta daripada mengkonsepkannya. Karena saya terlalu narsis saya tidak bisa mempercayai bahwa diri saya akan bisa mencintai orang lain lebih dari rasa cinta saya terhadap diri saya sendiri, bahkan nyaris sama saja saya tidak yakin.

Ketiga pertanyaan itu membuat saya bingung karena jawabannya serba tidak jelas dan karena saya bukan orang yang bisa diam menikmati sesuatu tanpa memahaminya maka kebingungan itu kadang menjadi begitu parah dan mengganggu.
Terlepas dari kenyataan bahwa saya tidak pernah benar-benar 'memilikinya' saya rasa saya memang tidak punya hasrat untuk itu. Itulah barangkali sebab yang paling logis kenapa saya tidak mengenal rasa kehilangan dalam hal ini.

Mungkin perasaan saya terhadap teman saya itu adalah apa yang disebut sebagai perasaan yang sangat halus yang dirasakan oleh seseorang terhadap keluarganya. Sesuatu yang sangat lembut yang merasuk perlahan-lahan di dalam hati dan tanpa disadari kemudian berakar dengan kuat yang sesuatu itu mampu membuat seseorang melakukan perjalanan melintasi benua hanya untuk berjumpa dan mengucapkan salam kepada orang yang dia cintai. Sesuatu yang terlalu sederhana apabila diungkapkan hanya dengan sebuah kata bernama cinta.

Pertemuan denganmu
(adalah) sebuah kebetulan
tentu saja barangkali juga sebuah kecelakaan
Kau di luar rencanaku
menggembirakan diri
tampil di sela-sela kemanjaanku
Beginikah rasanya punya teman?
Hiruk pikuk hari-hari
lewat begitu saja, ringan
dan kau memenuhi kekosongan
Kita berteman saja
aku tak punya niat terlalu jauh
Hanya kurasakan kesegaran
yang penuh saat bersamamu
Kurasakan kelancaran napas hidup
Kurasakan detil dunia dalam matamu
Kurasakan sukacita waktu dalam gerakmu
Kita berteman saja:
sebuah kenyataan
yang sangat mungkin abadi
menjelma kupu-kupu indah di suatu pagi
dengan bunga-bunga dan suara burung
Meski kau akan berlayar jauh dengan kekasih
aku adalah pelabuhan kala kau sendiri
Kita berdua memecah kesunyian
membikin dunia terjaga
dan bersama bergembira
Kita berteman saja
Sambil tetap berdoa
demi ketulusan hati
yang kuingin tetap begitu
Ya kita berteman saja
dalam hidup ini
dan nanti.
Catatan:
Puisi pada bagian akhir tulisan ini dikutip dengan sejumlah penyesuaian dari puisi berjudul Ode Untuk Teman karya Bagus Takwin.

Sabtu, 01 Maret 2008

L'AMOUR EST UN OISEAU REBELLE


L'amour est un oiseau rebelle
que nul ne peut apprivoiser
et c'est bien en vain qu'on l'appelle
s'il lui convient de refuser
Rien n'y fait, menace ou priere
l'un parle bien, l'autre se tait
Et c'est l'autre que je prefere
Il n'a rien dit mais il me plait
L'amour!
L'amour est enfant de Boheme
il n'a jamais, jamais connu de loi
si tu ne m'aimes pas, je t'aime
si je t'aime, prends garde a toi
L'oiseau que tu croyais surprendre
battit de l'aile et s'envola
l'amour est loin, tu peux l'attendre
tu ne l'attends plus, il est la!
Tout autour de toi, vite, vite
il vient, s'en va, puis il revient
tu crois le tenir, il t'evite
tu crois l'eviter, il te tient
L'amour!

English version:

Love is a rebellious bird
that nobody can tame
and you call him quite in vain
if it suits him no to come
Nothing helps, neither threat nor prayer
one man talks well, the other's mum
He's silent but I like his looks
it's the other one that I prefer
Love!
Love is a gypsy's child
it has never, ever, known a law
love me not, then I love you
if I love you, you'd best beware!
the bird you thought you had caught
beat its wings and flew away
love stays away, you wait and wait
when least expected, there it is
All around you, swift, swift
it comes, it goes, and then returns
you think you hold it fast, it flees
you think you're free, it holds you fast
Love!

( An Aria from Carmen Opera)

Senin, 25 Februari 2008

CINTA SERUPA LARUTAN PEWARNA


Sesuatu yang dilahirkan dari sebuah cinta yang berkobar-kobar, atau dari sebuah gagasan yang besar, pada akhirnya hanya menjadi sesuatu yang kejam dan biasa-biasa saja ( "Doctor Zhivago", Boris Pasternak)

Sebagaimana yang sering saya dengar cinta adalah sesuatu yang digambarkan sebagai seberkas sinar matahari di tengah kegelapan atau sebagai topan badai yang dasyat. Saya bertanya-tanya bagaimana sesuatu yang begitu menghebohkan, begitu menggebu-gebu, begitu menggairahkan dan begitu melelahkan yang disebut cinta itu bisa berakhir begitu saja.

Saya sering mendengar akhir kisah cinta. Sebagian begitu mengharukan, begitu indah dan menjadi topik dalam puisi, drama, film bahkan dongeng pengantar tidur. Kisah cinta ini menjadi contoh, atau setidaknya dipakai dalam pelajaran moral dan etika sebagai penggambaran dari perasaan manusia yang dalam dan paling manusiawi.

Tetapi sebagian yang lain merupakan akhir kisah cinta yang biasa-biasa saja walaupun tidak biasa dalam arti harfiah. Kisah semacam ini begitu banyak menghiasi roman-roman picisan. Kisahnya murahan dan tidak bermutu karena cinta semacam ini biasanya disebabkan oleh sesuatu yang bersifat hormonal belaka dan berakhir juga oleh hal yang sama, misalnya perselingkuhan yang intinya kehilangan chemistry terhadap pasangannya. Tetapi kisah seperti itu akan selalu ada, berlangsung dan kemudian dilupakan.

Semua orang saya rasa ingin mengalami kisah cinta yang indah. Tetapi seperti yang saya sampaikan di bagian awal tulisan ini bahwa selalu ada akhir dalam sebuah percintaan.

Pertanyaan yang kemudian timbul adalah apakah memang cinta itu hanya seperti perasaan yang lain seperti misalnya lapar, haus, sedih, gembira dan sebagainya yang dapat muncul dan hilang dengan sebab-sebab tertentu? Ataukah itu karena sifat manusia yang tak pernah puas?

Barangkali cinta memang seperti makhluk hidup. Dia bisa lahir dari ketiadaan, dengan sebab-sebab tertentu, dia membutuhkan makanan untuk tumbuh, dia bisa sakit dan dia pun bisa mati.

Barangkali juga cinta itu seperti api. Betapapun panas membaranya api itu tapi pada suatu saat toh harus tetap meredup dan padam.

Kepedihan yang dirasakan tokoh dalam kisah cinta yang tragis terasa menyusup ke dalam hati, begitu mengharukan, begitu menyakitkan sekaligus begitu indah. Saya ingat pernah mendengar seorang teman berkata bahwa penderitaan karena cinta adalah penderitaan yang paling indah. Seorang teman yang lain pernah berkata bahwa sesuatu berada di puncak keindahannya adalah saat sesuatu itu mati. Beauty of the death. Entah apakah kalimat yang saya gunakan ini terlalu sarkastis atau malah justru satir.

Saya pikir kesengsaraan karena berakhirnya kisah cinta barangkali datang dari kesalahan pandang terhadap cinta itu sendiri. Orang secara diam-diam berharap cinta mempunyai kedudukan yang setidaknya lebih tinggi dari makhluk hidup, meskipun tentu saja tetap jauh di bawah Tuhan, yang mempunyai sifat-sifat istimewa seperti keindahan yang abadi dan trlepas dari pengaruh sang waktu. Tentu saja itu mustahil. Cinta adalah perasaan dan sebagaimana perasaan lain, cinta akan ada selama orang merasakannya. Artinya keberadaannya tergantung pada eksistensi perasaan itu sendiri.

Di sisi lain orang juga diam-diam menginginkan agar cinta dapat berlaku seperti sebuah properti yang mereka miliki selagi mereka suka dan dapat mereka buang jika sudah usang dan tak membutuhkannya lagi. Padahal pada kenyataannya cinta selalu melibatkan sesuatu yang alami, tidak terduga dan berada di luar kendali manusia. Sungguh pemikiran yang dualis.

Cinta barangkali seperti larutan pewarna. Jika anda seorang pelukis atau menyukai lukisan atau punya hobi melukis, seperti saya, anda akan tahu bahwa dalam mencampur warna seseorang tidak hanya dihadapkan pada banyak peraturan fisika dan selera estetika tetapi juga bagaimana mengendalikan kebebasan dalam sebuah komposisi yang masuk akal. Kita harus sangat berhati-hati sebelum mencampur satu warna dengan warna yang lain agar warna yang kita kehendaki muncul dengan indah. Memang seringkali terjadi apa yang disebut sebagai kecelakaan yang indah dimana kita mencampur dua warna secara tidak disengaja dan menghasilkan warna yang tidak terduga indahnya. Tetapi sebagaimana yang telah kita ketahui bersama bahwa dalam kebebasan selalu ada tanggungjwab yang mengikutinya maka apa yang disebut sebagai kecelakan yang indah itu selalu memberi konsekuensi yang panjang.

Sebagaimana sifat larutan pewarna, mungkin akan datang saatnya ketika warna yang dihasilkan menjadi sangat cemerlang kemudian meluntur dan menjadi kusam. Untuk itulah selalu diperlukan sebuah upaya pemeliharaan. Dan ketika seseorang telah berhenti memelihara cintanya maka cinta itu akan berada dalam babak akhir dari kehidupannya dan para tokohnya berada dalam adegan-adegan yang memilukan.

Barangkali gambaran saya diatas bisa cukup terwakili oleh lagu kesukaan saya ini:

Yen luntura wenterane
ora kaya yen luntur tresnane
tekan-tekane atine
kaya-kaya mung saksire dhewe

Ora sembada biyene
saben dina mung tansah methukke
saben kepethuk tembunge
angrerepa dadia duweke

Ora maido kala mangsa
wong sok gawe cuwa
ewasemana nganti bisa
anglunturke tresna

Ditambakna mrana-mrene
tiwas-tiwas ndedawa larane
nadyan tamba sejatine
ora liya mung awake dhewe.

Jumat, 15 Februari 2008

KATA-KATA


'Kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa' ("Sepotong Senja Untuk Pacarku", Seno Gumira Ajidarma)



Dalam sehari, jika kita bukan Tarzan (pada masa sebelum bertemu dengan Jane) yang cuma bergaul dengan binatang, entah berapa banyak kata yang kita ucapkan. Kalau bahasa yang digunakan kebetulan adalah bahasa ibu dan bahasa kedua yang sudah dikuasai dengan baik sehingga menjadi bilingual sempurna, maka bisa jadi kata-kata yang digunakan dapat berkembang membentuk kosa kata baru, idiom-idiom baru atau secara kreatif menghasilkan cara baru penggunaan "bahasa menyimpang".

Sebagian kata-kata yang kita gunakan, yang kita ucapkan hanya berakhir sebagai kata-kata dan tak pernah lebih dari itu.

Mungkin sebagian yang lain mengalami nasib yang "lebih baik". Dalam artian tertinggal dan dikenang-kenang atau lebih jauh lagi dapat menginspirasi orang untuk melakukan sesuatu.

Salah satu pekerjaan seorang penulis, penyair, sastrawan atau apapun istilah yang digunakan terhadap orang yang suka menuangkan ide dan gagasannya ke dalam bentuk tulisan, adalah berusaha agar kata-kata tidak hanya akan berakhir sebagai kata-kata saja.

Niat awal seseorang menulis, siapapun dia, saya kira adalah untuk berusaha menggambarkan keadaan perasaan dan pikirannya dalam bentuk kata-kata. perasaan sangat cepat perkembangannya dan juga sangat cepat berlalu.

Mencatatnya merupakan usaha untuk mengabadikannya. Sedangkan membicarakannya, atau mempubikasikannya, adalah usaha untuk membaginya dengan orang lain. Dua-duanya diam-diam mendukung bukti bahwa manusia itu sangat narsis.

Kembali ke pernyataan awal, benarkah kata-kata itu benar-benar tidak merubah apa-apa? ketika saya menanyakan pertanyaan itu ke salah satu sahabat dekat saya dia menjawab peradaban manusia ini berdiri diawali dengan kata-kata Tuhan. Tentu saja pendapatnya itu benar, tidak saja karena disertai dengan dalil yang sangat kuat tetapi karena hal itu sudah merupakan sebuah kebenaran universal yaitu segala sesuatu selalu berawal dari kehendak Tuhan.

Tetapi kata-kata yang saya maksudkan disini, dan yang menjadi masalah, adalah kata-kata manusia. Seperti yang tadi saya katakan bahwa manusia itu diam-diam sangat narsis, bagaimana dia memperlakukan kata-kata kadang sungguh memprihatinkan. betapa banyak kata-kata yang dihamburkan tanpa mendukung satu makna pun hingga rasanya seolah-olah dunia tanpa kata-kata adalah dunia yang lebih baik.

Saya tidak tahu apa konklusi dari semua itu. Tetapi saya pikir alangkah baiknya kalau kita berhati-hati dengan kemampuan kita untuk memproduksi kata-kata sebagaimana kita berhati-hati dengan pikiran kita agar kata tak kehilangan maknanya.

Selasa, 29 Januari 2008

KANGEN


Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku
menghadapi kemerdekaan tanpa cinta
Kau tak akan mengerti segala lukaku
karna cinta telah sembunyikan pisaunya
Membayangkan wajahmu adalah siksa
Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan
Engkau telah menjadi racun bagi darahku
Apabila aku dalam kangen dan sepi
itulah berarti
aku tungku tanpa api.

(Puisi berjudul "Kangen" dari buku kumpulan puisi "Empat Kumpulan Sajak" karya WS Rendra)

Puisi diatas adalah puisi kesukaan dosen sastra saya. Beliau juga yang pertama kali membuat saya menyadari bahwa kangen dan rindu itu memiliki makna yang berbeda. Kata kangen digunakan untuk menyatakan rasa rindu yang sudah parah jadi rinduuuu sekali.

Saya tidak tahu komposisi kimia apa yang membentuk rasa kangen itu. Barangkali otak yang kekurangan nutrisi adalah salah satunya karena ketika seseorang merasa kangen dia akan bersikap seakan tidak punya otak atau paling tidak seperti seorang yang otaknya mengalami malfungsi.

Kangen barangkali datang dari ketidakberadaan sebuah obyek yang kita inginkan keberadaannya, atau dari keindahan yang ada pada masa yang telah berlalu yang mana hal itu sebenarnya merupakan refleksi dari keinginan kita untuk mendapatkan dan merasakan kembali keindahan itu pada masa sekarang.

Kangen juga mungkin timbul ketika kita tidak merasa aman dan nyaman dengan keadaan kita. Masa lalu seringkali dianggap lebih aman karena sudah terjadi dan sesulit apapun masa itu toh sudah berlalu.

Pada intinya kangen bisa dikatakan timbul pada saat there's something wrong with us. Meskipun tentu saja tidak semua hal terjadi karena sebuah alasan yang jelas. Seringkali alasan itu adalah sesuatu yang bersifat complicated. Kangen termasuk dalam golongan hal yang alasan terjadinya bisa sangat complicated.

Saya sendiri adalah orang yang sangat sering merasa kangen. Baik merasa kangen kepada obyek yang jelas (keluarga, kekasih, sahabat dll) maupun kepada sesuatu yang tidak jelas. Saya bahkan bisa merasa kangen pada sesuatu yang saya sendiri tidak tahu sesuatu itu apa. Sudah biasa bagi saya untuk memulai percakapan, di jalan, di telepon atau di e-mail, dengan orang yang saya rindukan dengan kalimat "Aku kangen." Rasanya kalimat itu sudah cukup mewakili apa yang saya rasakan tanpa perlu bersusah payah menjelaskannya dalam kalimat yang panjang lebar.
Saya mengakui, merasa kangen tidaklah selalu menyenangkan. Pada suatu waktu kangen bisa berubah menjadi seperti penyakit yang tanpa obat. Jika diteorikan umumnya obat dari penyakit yang timbul karena ketidakberadaan sesuatu adalah dengan keberadaan sesuatu itu. Tapi kangen tidaklah selalu demikian. Mungkin kangen bisa diterapi dengan bertemu tapi tidak selalu menjamin kesembuhannya. Kadangkala setelah bertemu dengan orang yang kita rindukan kita justru malah semakin merindukannya terutama jika seseorang itu adalah orang yang menempati ruang yang luas di dalam hati kita.

Saya tidak tahu apa penyebab kangen itu adalah karena pentingnya hal yang kita kangeni itu dalam hidup kita ataukah karena kita begitu rewel terhadap kenyataan. Atau malah kedua-duanya. Saya sendiri bingung memutuskan mana yang benar. Paling-paling pada akhirnya saya hanya bisa mengutip lagu yang biasa didendangkan kekasih saya:

Yen ing tawang ana lintang, Cah ayu
aku ngenteni tekamu
marang mega ing angkasa ingsun takokke pawartamu.

Janji-janji aku eling, Cah ayu
sumedhot rasaning ati
lintang-lintang ngiwi-iwi, Nimas
tresnaku sundhul wiyati.

Dhek semana janjiku disekseni
mega kartika
kairing rasa tresna asih

Yen ing tawang ana lintang, Cah ayu
rungokno tangising ati
binarung swarane ratri, Nimas
ngenteni mbulan ndadari.

Minggu, 27 Januari 2008

SEJARAH


Beberapa hari terakhir saya merasa aneh sekali. Sepertinya saya selalu punya waktu luang tak peduli betapapun banyaknya hal yang saya kerjakan. Seorang teman saya bilang itu karena saya terlalu peduli pada detail. Tapi saya rasa itu lebih karena saya menyadari dan menghayati kehadiran waktu.

Saya rasa setiap orang punya persepsi berbeda tentang waktu. Panjang pendeknya tergantung bagaimana seseorang menghayatinya. Mungkin Einstein dan teori relativitas-nya itu merupakan gambaran paling ilmiah dari seseorang yang berusaha menggambarkan keadaan itu dengan satu kalimat saja.

Kadang-kadang aku bertanya-tanya bagaimanakah proses terbentuknya sejarah, sementara pada kenyataannya sejarah adalah apa yang baru bisa dilihat dan dikaji begitu telah terjadi. Saya pikir sangat jarang ada orang yang menyadari bahwa dia sedang menciptakan sebuah sejarah baru kecuali orang yang sangat optimis barangkali. Sejarah mungkin bisa disebut bagian yang paling aneh dari waktu, tidak dipedulikan sekaligus tidak terbantahkan.

Beberapa waktu lalu saya membaca buku berjudul Dunia Tanpa Ingatan karya Anton Kurnia. Ini adalah buku berisi kumpulan esai tentang sastra. Secara pribadi saya sangat terkesan dengan Anton Kurnia. Dia menghidupi dirinya dengan hasil tulisannya dan dengan kecintaannya pada sastra. Dia seorang sastrawan sejati. Tetap bisa berbahagia (dengan melakukan pekerjaan yang dicintai) tanpa perlu dibuat resah dengan ketidaksempurnaan dunia, menurut saya hal semacam itu sangat heroik.

Esai pertama di buku itu sangat bagus. Ada hal menarik yang mengganggu pikiran saya setelah membaca buku itu. Pertanyaan saya adalah: Jika tulisan dapat menjadi ingatan tandingan dari ingatan yang sebenarnya, maka apakah ingatan yang sebenarnya itu? Apakah itu adalah kenyataan ataukah sejarah? Reaksi ini hampir sama dengan saat saya membaca bukunya Milan Kundera. Ini semua membuat saya berandai-andai:

Seandainya pada suatu hari saya bunuh diri tanpa sebab. benar-benar tanpa sebab sehingga mencurigakan, sahabat-sahabat saya tersayang mungkin akan menemui psikiater sambil membawa copy dari semua tulisan saya, termasuk catatan ini, dan mereka pasti menyuruh psikiater itu untuk melakukan autopsi psikologis. Psikiater itu mungkin akan memberikan analisa dan menyimpulkan bahwa saya menderits manic depressive, bahwa saya terobsesi pada kematian dan bahwa persepsi saya terhadap realitas mengalami ketidakseimbangan. Dan kalau kesimpulan itu menjadi satu-satunya sebab yang masuk akal sementara tulisan saya, yang menjadi ingatan tandingan dari ingatan yang sebenarnya tentang saya, mendukung hal itu, dan kalau ingatan yang sebenarnya tentang saya menjadi begitu kabur oleh ketidakberadaan saya, pada akhirnya tulisan saya akan merekonstruksikan kehidupan saya dan begitulah yang akan tertinggal dari waktu yang kemudian menjadi sejarah.

Pengandaian di atas sungguh menggelikan sekaligus menakutkan saya.

Pada sejarah terdapat banyak pelajaran tapi saya rasa kesemuanya digolongkan menjadi dua bagian besar yaitu kisah tentang kebaikan seseorang dan kisah tentang kebodohan seseorang. Di antara kisah-kisah itu ada bentuk bualan orang yang oleh orang yang berbudaya disebut sebagai sastra. Walau kebenarannya diragukan tetapi tak dapat saya pungkiri bahwa kisah-kisah dalam sejarah maupun dalam karya sastra cukup mempengaruhi saya. Mungkin benar seperti kata Pablo Picasso bahwa kadang-kadang kebohongan membantu kita untuk lebih memahami kebenaran.

Well, saya rasa semua hal tentang sejarah ini membuat saya pusing. Mungkin ada baiknya saya katakan "Aku sudah cukup menghabiskan seluruh hidupku di dunia jaman sekarang dan dibuat repot olehnya tanpa orang lain perlu melantur tentang sesuatu yang terjadi ataupun yang tidak terjadi di masa lalu".

Senin, 21 Januari 2008

JEJAK-JEJAK KEDUKAAN


Apakah laut masih bernama laut?
Jika dia tidak ada
Apakah sunyi masih bernama sunyi?
Jika dia tidak ada
Ketika dia pergi
Aku kehilangan semua nama
Apakah maut masih bernama maut?
Jika dia tidak ada
Apakah matahari masih bernama matahari?
Jika dia tidak ada
Ketika dia pergi
Aku kehilangan seluruh cahaya.
(dikutip dari puisi dalam cerpen "Ketika Rinana Pergi" karya Cecep Syamsul Hari)


Hari ini adalah peringatan satu tahun meninggalnya kakek saya.

Siapapun yang kita temui dalam hidup kita meninggalkan jejak di dalam hati kita. Kadang jejak itu begitu samar sehingga dapat diterbangkan angin dan akan terhapus bersama berlalunya waktu. Tetapi ada kalanya jejak itu begitu dalam dan hati kita tak pernah sama seperti sebelumnya, demikian juga dengan hidup kita.

Rasanya jejak yang tinggal di hati saya karena keberadaan kakek saya sangat dalam, mungkin peristiwa-peristiwa dan hal-hal lain, bersama waktu, akan menutupi jejak itu tapi jejak itu akan tetap ada disana.

Saya adalah "wanita satu paket", artinya saya, keluarga saya, sahabat-sahabat saya dan semua orang yang saya cintai adalah sebuah kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Saya terikat dengan mereka baik secara fisik, emosi maupun moral. Mereka sangat mempengaruhi hidup saya sehingga apabila terjadi sesuatu pada mereka maka seakan-akan saya juga turut mengalaminya. Ketika salah satu dari mereka pergi saya merasa seakan-akan mata, telinga, lidah, tangan dan kaki saya dicopoti satu per satu. Kehilangan mereka adalah sebuah kedukaan yang tak terperikan.

Saya belum pernah kehilangan salah satu dari "paket" saya sebelumnya. Yang ada barangkali hanya "kepergian yang akan pulang kembali pada waktunya". Ketika kakek saya meninggal saya merasakan kedukaan yang begitu dalam. Saya merasakan rasa sakit yang sakitnya tak pernah saya bayangkan sebelumnya hingga saya yakin saya tidak akan bisa pulih seperti sebelumnya. Rasanya semua hal yang telah saya pelajari dan semua hal yang saya yakini tidak bisa menghilangkan rasa sakit saya. Baik saat itu maupun sekarang rasa sakitnya masih terasa sama.

Saya merasa tak peduli berapa tahun pun waktu yang telah kita lewati sejak peristiwa kehilangan itu, tak peduli berapapun usia kita, yang namanya sebuah kematian dari orang yang kita cintai tetap saja bisa menimbulkan kedukaan yang dalam.