Jumat, 14 November 2008

AGE OF INNOCENCE



Mengapa kita yang memintal kenangan

tak pernah ingat untuk membujuk waktu

agar merayap dengan sangat pelan

padahal kita segera dijemput kematian?



Mengapa kita ikat simpul cinta kuat-kuat

padahal di satu senja kita akan melepasnya

dengan sisa kelemahan yang kita punya

dan napas kita selalu patah?


Sayangku, cinta dan doaku adalah sayap yang akan menjagamu

dari hujan paling basah dan cuaca paling kerontang.


Catatan:

Puisi diatas dikutip dari karya Nurul Lathifah

Senin, 08 September 2008

I'M SO SORRY, I'M JUST MYSELF

Kecuali orang yang memang punya gangguan kejiwaan, saya rasa tidak ada orang yang suka ataupun merasa baik-baik saja ketika melakukan suatu hal yang salah. Barangkali segala hal di dunia ini bukanlah urusan benar atau salah saja tetapi bagaimana pun juga tetap saja ada hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Saya pun demikian. Saya menetapkan peraturan bagi diri saya sendiri bahwa ada hal yang boleh dan tidak boleh saya lakukan. Dan ketika saya melanggarnya, apapun alasan dari perbuatan pelanggaran itu, saya toh tetap merasa tidak baik-baik saja.

Sebagaimana semua orang yang lain, saya pun mempunyai angan-angan, impian, pemikiran, pemahaman dan idealisme yang kesemuanya itu mencirikan kepribadian saya. Sekalipun ungkapan berubah menjadi lebih baik dapat saya terima sebagai sesuatu yang positif tapi saya menyadari ada hal-hal tertentu di dalam diri saya yang tidak mungkin saya ubah, baik secara sengaja maupun karena “dipaksa”. Saya tidak dapat membohongi diri saya sendiri maupun orang lain dengan mengatakan bahwa saya dapat berubah demi mereka. Berusaha mengubah orang lain pun adalah perbuatan membohongi diri sendiri. Sudah tentu saya ingin diri saya maupun orang-orang yang saya cintai menjadi lebih baik tapi bahkan seandainya tidak ada kata menjadi lebih baik itu, misalnya seandainya pun mereka tetap menjadi sebagaimana adanya mereka, dengan semua keistimewaan dan kekurangan mereka, saya toh sudah menerima mereka sebagai bagian penting yang mengisi hidup saya.

Ketika saya berada dalam keadaan hampir kehilangan rasa cinta seseorang kepada saya hanya karena saya menjadi diri saya sendiri, bahwa saya tidak sempurna, bahwa saya mempunyai kekurangan, saya memandang kembali pada apa yang membuat saya memasukkan diri saya dalam lingkaran cinta itu. Saya menemukan bahwa penerimaan dirilah yang menjadi alasannya. Bahwa saya bersedia berbagi hidup yang tidak sempurna, atau lebih tepatnya berbagi diri saya yang tidak sempurna, dengan mereka untuk sebuah tujuan yang saya percaya sebagai tujuan mulia yaitu menjadi manusia. Kalau kemudian saya dituntut untuk mengingkari penerimaan itu, misalnya dengan berupaya untuk selalu tampil sempurna dan tanpa cacat cela, maka dengan besar hati saya akan melangkah keluar dari lingkaran itu dan berkata I’m so sorry, I’m just myself.

Minggu, 11 Mei 2008

APAKAH DUNIA INI MEMERLUKAN SAYA?


Pertanyaan itu pada mulanya hanyalah sebuah pertanyaan dalam komik Jepang yang berjudul Fruit Basket karya Natsumi Takaya. Namun belakangan ini saya memikirkan pertanyaan itu.

Tidak peduli siapapun yang lahir ataupun mati, dunia ini tetap tidak berubah. Siang dan malam tetap datang silih berganti seperti biasa. Kalau dipikir-pikir pastinya dunia ini sama sekali tidak memerlukan seorang pun. Apalagi orang dengan kapasitas seperti saya. Barangkali itu ada benarnya tetapi menyadari hal itu menimbulkan kesedihan dan rasa sepi yang tidak terhingga di dalam hati.

Saya sering menghitung kelebihan dan kekurangan yang saya miliki. Dan betapapun saya berpikiran positif terhadap diri saya sendiri (narsis maksudnya) tetap saja saya mendapati kekurangan saya lebih banyak dari kelebihan saya.

Saya merasa tidak punya andil di dunia ini. Bahkan meskipun saya setiap hari pulang pergi ke kampus, menghadapi anak-anak muda yang menganggap pekerjaan saya sebagai sesuatu yang romantis dan heroik, saya tetap merasa tidak enak hati karena seringkali ilmu pengetahuan itu kehilangan kemuliaannya kalau kita mencari nafkah darinya.

Kadang-kadang saya merasa berada di luar lapangan, bertindak seperti seorang pengamat, walaupun sebenarnya saya tidak punya hak untuk itu, tidak ikut bermain, tetapi begitu melihat betapa buruknya permainan yang berlangsung, betapa banyak kecurangan yang terjadi, saya kemudian bersikap sinis. Kesinisan itu makin lama makin parah. Barangkali itulah yang makin menjauhkan saya dari arena.

Seorang teman dekat saya, yang biasa mengamati saya dengan pandangan yang sangat kritis, mengatakan kalau keadaan saya membuat orang jengkel. Menurutnya raut muka dan sikap saya seringkali seolah berkata dunia berputarlah sesuka hatimu aku tidak peduli. Saya tidak merasa punya pemikiran semacam itu tetapi kalau dikatakan bahwa saya tidak mempunyai ekspektasi-ekspektasi terhadap dunia ini nah itu barangkali ada benarnya.

Rabu, 30 April 2008

BULAN PAGI HARI


Saya sangat suka bulan di pagi hari. Warna langit di sekitarnya, yang belum sepenuhnya terlihat karena masih terdapat sisa-sisa malam, menambah kepucatan warna peraknya. Bulan di malam hari memang terlihat misterius dan sangat indah tapi bulan di pagi hari indah luar biasa.

Barangkali karena sebentar lagi matahari akan terbit dan tentu saja berarti bulan harus melenyap dengan suka rela maka keindahan itu terlihat sangat nyata. Waktu yang singkat membuat keindahan terpancar dengan lebih intens.

Melihat bulan di pagi hari membuat saya berpikir segala sesuatu mempunyai masa paling indahnya masing-masing. Ada yang masa paling indahnya adalah saat pertama kemunculannya seperti bunga misalnya. Ada juga yang masa paling indahnya justru di akhir keberadaannya seperti bulan di pagi hari itu. Yang mana pun di antara keduanya saya pikir yang paling penting adalah memaknaan keberadaan itu sendiri. Saat ini saya belum mampu menemukan contohnya tapi di dunia ini pasti ada hal menjadi indah karena ada.

Selasa, 22 April 2008

CAPUNG


Saya sangat suka capung. Binatang kecil bersayap itu selalu mengingatkan saya akan masa kecil saya. Melihat capung beterbangan, terutama ketika sehabis hujan atau saat hujan gerimis, saya merasakan sesuatu di dalam hati saya. sebuah perasaan yang sentimentil.

Saya dibesarkan di sebuah desa di kabupaten Ponorogo. Semasa saya masih kecil hewan semacam capung, burung manyar, kupu-kupu dan bangau tong-tong masih bisa ditemui dalam jumlah yang melimpah. Di dekat rumah saya terdapat sebuah sungai dan karena capung berkembangbiak dan meletakkan telurnya di daerah perairan maka banyak capung beterbangan di sekitar rumah saya. Saya dan adik saya suka sekali menangkapi capung. Bukan untuk suatu tujuan tertentu melainkan karena ingin saja, biasanya kami akan melepaskan kembali capung itu setelah beberapa menit kami menangkapnya.

Di antara banyak jenis capung yang ada, saya paling suka capung merah (Sympetrum internum) tetapi jenis ini lebih susah ditemui dan terkenal sangat gesit dan selalu waspada sehingga susah ditangkap.

Berdasarkan yang saya pelajari di universitas capung merupakan musuh alami dari hama ngengat dan walang sangit sehingga keberadaannya menguntungkan petani. Capung juga dipakai sebagai bioindikator untuk mengetahui kualitas air di suatu perairan karena biasanya capung hanya mau meletakkan telurnya di perairan yang bebas polusi.

Saya berharap akan selalu ada capung-capung merah yang beterbangan karena itu menandakan alam yang sehat dan bebas polusi. Dan saya mengharapkan itu.

Minggu, 23 Maret 2008

PEKERJAAN YANG BAIK DAN MULIA

Pekerjaan yang bagaimanakah yang disebut baik dan mulia itu?

Barangkali seperti gambaran dalam cerita-cerita kepahlawanan tentang seseorang yang bekerja keras tanpa mengharapkan upah dari pekerjaannya kecuali hanya niat untuk mengubah dunia menjadi sedikit lebih baik, menjadi tempat yang lebih nyaman untuk ditinggali.


Barangkali seperti kisah tentang guru yang mengajar anak-anak di suku pedalaman, atau tentang dokter yang mengabdi di pulau terpencil, atau tentang seorang nelayan yang menanam pohon tinjang (salah satu jenis bakau) sepanjang garis pantai hingga sempat dikatakan gila sebelum kemudian usahanya itu terbukti mampu melindungi desanya dari bahaya abrasi sekaligus mengundang datangnya ikan-ikan ke hutan bakau itu sehingga nelayan di daerah itu tidak perlu melaut terlalu jauh untuk bisa menangkap ikan, dan masih banyak lagi cerita semacam itu.


Kisah-kisah itu mampu membuat orang yang berhati lembut meneteskan air mata karena terharu, mampu membuat orang-orang yang punya daya kreasi menjadi terinspirasi dan mampu membuat orang-orang yang punya pikiran negatif dan bersikap pesimis terhadap kehidupan akan berpikir bahwa masih ada orang yang baik di dunia ini.


Kisah-kisah itu menarik tidak hanya karena jalan ceritanya tetapi lebih karena tokoh-tokoh dalam cerita itu tidak menyadari bahwa dirinya telah melakukan suatu kebaikan dan kemuliaan, kecuali bahwa mereka melakukan pekerjaannya karena mencintai pekerjaan tersebut.


Mencintai pekerjaan, melakukannya dengan sungguh-sungguh, dengan niat dan tujuan yang baik, barangkali adalah syarat mutlak agar suatu pekerjaan bisa dikategorikan baik dan mulia.


Mengenai pekerjaan saya cenderung mengaitkannya dengan sebuah fungsi dalam sistem kehidupan. Bukankah cara paling gampang untuk tahu kegunaan seseorang dalam kehidupan adalah dengan melihat apa yang dikerjakannya? Meskipun tentu saja kadangkala, dalam beberapa kasus, pekerjaan tidaklah mencerminkan jati diri seseorang, terutama pekerjaan yang dilakukan hanya supaya bisa mendapat uang untuk membayar sewa.


Saya percaya dunia ini adalah sebuah sistem besar dengan sekian banyak komponen yang berkaitan satu sama lain. Jika salah satu komponen tidak melaksanakan fungsinya dengan baik maka kelangsungan kerja sistem itu akan terganggu. Komponen iu adalah manusia, fungsinya adalah pekerjaan dan sistemnya adalah kehidupan itu sendiri.


Saya percaya satu kebaikan akan melahirkan sekian banyak kebaikan yang datang menyertai kebaikan yang pertama. Demikian juga dengan kemaksiatan. Orang harus benar-benar memikirkan setiap hal yang dia lakukan dan bertanggungjawab atas semua resikonya baru dengan begitu dia dapat disebut memiliki martabat kemanusiaan, memiliki sebuah fungsi.


Saya pikir profesionalisme dalam pekerjaan adalah seperti sebuah sentuhan seni dalam sebuah karya, merupakan nilai estetika dari sebuah kewajiban. Satu pekerjaan yang baik yang dilakukan dengan baik dengan tujuan yang baik akan mampu menjadikan dunia ini menjadi lebih indah.

Jumat, 21 Maret 2008

RASA YANG TERSEMBUNYI


Siapakah yang membuat nasi goreng pertama kali?

Saya rasa dia pasti seorang yang jenius. Atau, bila itu memang suatu yang tidak disengaja, seperti orang yang merebus air minum di alam terbuka lalu kejatuhan daun yang kemudian peristiwa itu kita kenal menjadi cikal bakal tradisi minum teh, maka bisa dibilang itu adalah sebuah kecelakaan yang indah.

Saya tidak tahu ada apa di dalam nasi goreng itu hingga saya tidak pernah bosan memakannya.

Padahal nasi goreng itu masakan yang sangat sederhana yang tidak memerlukan kecakapan dan seni kuliner yang rumit dalam proses pembuatannya.

Bahannya pun sederhana dan ada di dapur manapun kecuali dapur yang fungsinya cuma melengkapi keutuhan desain interior sebuah rumah alias tidak benar-benar difungsikan sebagaimana fungsi aslinya sebagai tempat memasak. Bahan-bahan itu adalah nasi (termasuk sega wadang atau nasi sisa makan malam sebelumnya), bahan pelengkap (telur dadar, sosis, daging ayam, udang, teri medan dll bisa merupakan kombinasi beberapa macam bahan sekaligus atau cuma satu macam saja), sayuran (mentimun, daun bawang, daun selada) dan bumbu (bawang putih, bawang merah, cabai, garam, terasi dll tergantung improvisasi) tentu saja yang saya sebutkan itu tadi semuanya ditambahi kata sesuai selera dan kalau kebetulan ada.

Cara memasaknya pun cuma berprinsip pada teknik sederhana yaitu mengulek, menumis dan mencampur.

Menurut saya nasi goreng itu adalah makanan yang simple sekaligus complicated.

Saya pernah membaca tulisan Umar Kayam yang dimuat di harian umum Kedaulatan Rakyat. Di salah satu kolomnya itu dia menulis tentang nasi goreng. Nasi goreng itu menjadi favorit seluruh keluarga. Ketika si pembuat nasi goreng special itu hendak menurunkan resep rahasianya kepada keluarganya, lewat acara demo masak kecil-kecilan, sementara dia menjelaskan dengan panjang lebar eh ternyata keluarganya justru terus menerus menanyakan dimana letak rahasianya? Wong tekniknya ya standar-standar saja. Mereka minta dijelaskan intinya kenapa bisa membuat nasi goreng yang begitu enak. Si pemilik resep jadi bingung dan akhirnya resep itu tidak bisa diilmiahkan. Artinya meski memakai bahan dan teknik memasak yang sama tapi tetap saja hasilnya lain.

Saya rasa setiap orang yang suka memasak punya kemampuan masing-masing untuk memunculkan rasa yang tersembunyi dari masakan yang dibuatnya. Rasa yang tersembunyi itu menjadi ciri khas dari masakan seseorang, menjadikan masakan menghasilkan cita rasa berbeda-beda walaupun memakai resep yang sama.

Sayangnya rasa yang tersembunyi itu kadang menjadi sebuah konsep yang begitu absurdnya sehingga susah dijelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami orang lain. Tapi dalam menghadapi makanan lidah memang tidak memerlukan bahasa.

Barangkali saya suka nasi goreng itu karena adanya rasa yang tersembunyi tersebut.

Minggu, 16 Maret 2008

INGATAN


Hari ini saya mengirimkan sms berbunyi "Boleh aku mengambil ingatanmu tentang aku?" ke beberapa orang teman dekat.

Jawaban yang saya peroleh bermacam-macam:
1. What does it mean?
2. Kenapa?
3. Memangnya bisa?
4. Memangnya boleh?
5. Buat apa?
6. Aku tidak siap untuk operasi otak malam-malam begini
7. Apa yang kamu khawatirkan? Aku toh tidak akan mengancammu dengan ingatan itu
8. Mungkinkah kita berteman dengan seseorang tanpa mempunyai ingatan apapun tentangnya?

Well, itulah kesenangan saya akhir-akhir ini, mengganggu orang-orang yang menyebut diri saya sebagai temannya atau lebih tepatnya orang-orang yang selalu saya sebut-sebut sebagai teman saya.

Belakangan ini, barangkali karena saya punya banyak waktu luang hingga bisa mikir yang tidak-tidak, saya sering membayangkan menjadi seorang yang keberadaannya tidak ada di dalam ingatan siapapun. Ada yang kelihatan tidak ada atau tidak ada tapi ada. Kadang-kadang saya berpikir itu adalah konsep yang keren dan membuat iri.

Bagaimanakah sebuah ingatan terbentuk?

Kita, manusia, merupakan makhluk yang penuh dengan fenomena dualisme. Dalam sisi apapun kita selalu punya dua cara pandang: secara konseptual, dalam hal ini segala hal yang bersifat faktual, fisik, empiris dan masuk akal; dan secara konstektual, yang berkaitan dengan perspektif, bersifat sangat personal dan seringkali susah dijelaskan dengan bahasa ilmiah karena melibatkan adanya faktor pengacau paling parah yaitu perasaan.

Ketika berhadapan dengan sesuatu, entah itu orang, peristiwa atau benda, kita hampir selalu menilainya dengan dua cara pandang itu. Sebuah informasi yang masuk ke otak kita pun mengalami proses pemecahan dengan dua program itu. Misalkan ketika saya melihat buah apel, saya akan mendeskripsikannya berdasarkan kesempurnaan bentuknya, kecemerlangan warnanya, kesegarannya dan beberapa fakta tentang buah itu yang telah saya baca dari buku. Tetapi di lain pihak, selain kenyataan bahwa saya tidak begitu suka makan buah apel, kecuali kalau sedang berada di bawah ancaman kekerasan yang dilakukan oleh dokter saya tercinta, dan apel sering saya gunakan untuk obyek lukisan, saya juga menilainya sebagai sesuatu yang melambangkan keintiman, sebuah larangan dan penanda bentuk-bentuk kekecewaan yang berkepanjangan. Bukankah perang Troya itu kalau dirunut berawal dari protes Eris karena tidak diundang pesta sehingga mengirimkan apel emas dan sebagai dampaknya Paris harus terjebak dalam pilihan-pilihan yang rumit? Saya tidak tahu apakah orang lain juga berpikir hal yang sama tetapi saya bisa melihat dampaknya. Misalkan ketika melihat tikus saya dapat secara refleks melakukan hal-hal yang memalukan seperti naik meja umpamanya sementara teman saya biasa-biasa saja saat melihat binatang yang sama.

Saya kira informasi yang kita terima, yang kemudian menjadi data yang tersimpan dalam otak, dan merupakan cikal bakal ingatan, mengalami banyak hal, mungkin semacam adding dan cutting, sehingga seringkali kumpulan data otak tidak berada dalam wilayah realita yang sama dengan ingatan. Ingatan bisa berada di luar konsep ilmiah semacam itu.

Senin, 10 Maret 2008

PERPISAHAN


Beberapa hari terakhir saya berusaha mengurai kebodohan masa lalu saya dan mencoba mencari pemaafan dari diri saya sendiri.

Saya menyambung kembali komunikasi dengan beberapa orang yang sebelumnya kepadanya telah saya ucapkan selamat tinggal, baik secara verbal maupun secara implisit bahwa saya tidak ingin lagi bersinggungan dengan mereka dalam garis hidup yang saya jalani. Orang-orang ini meskipun tanpa melakukan apa-apa keberadaan mereka toh sudah sama saja dengan berteriak, "Kami pernah menjadi bagian dalam hidupmu. Kamu tidak bisa dong menolak kami ataupun menghapus kami. Dalam garis perjalanan hidupmu akan tetap ada bagian yang berisi kami. Dan kamu toh tidak bisa mengubah masa lalu."

Bagi saya yang berpendapat bahwa di dunia ini kekurangajaran yang paling kurangajar dan tidak termaafkan adalah apabila seseorang merasa memiliki kehidupan orang lain, maka membayangkan bahwa ada orang yang berpikir hal yang demikian membuat saya jengkel setengah mati.

Orang-orang yang saya sebutkan di depan adalah orang-orang yang berada dalam rentang waktu yang sama dengan saat saya melakukan hal-hal yang salah dan bodoh, dan karena saya tidak bisa memaafkan diri saya yang telah melakukan kesalahan dan kebodohan itu maka saya selalu mengingat masa itu dan demikian juga dengan orang-orang tersebut. Dan disebabkan hal itu maka sama saja saya tetap membiarkan mereka berada bergelantungan dalam garis hidup saya sehingga bahkan ucapan selamat tinggal, dengan segala macam prosesinya pun, tidak mampu 'menghilangkan' status 'ada' itu.

Awalnya saya berpura-pura tidak terganggu dengan hal itu, bahwa semua orang pasti juga mengalami hal yang sama, kalau mereka bisa mengatasinya kenapa saya tidak? Saya menjalani hidup saya sendiri, merasa asyik dengan semua urusan yang menjadi kewajiban saya untuk mengurusnya. Tapi kenyataan bahwa sesuatu sedang bergelantungan dalam hidup saya itu sama sekali bukan hal yang bisa diabaikan. Pada waktu-waktu tertentu, ketika saya bermain dengan kenangan saya merasakan gangguan itu.

Barangkali akan sangat tidak adil jika saya katakan orang-orang ini sebagai embel-embel yang tidak penting, karena bagaimanapun seseorang tetaplah somebody dan bukan nobody, tapi ketika saya berusaha sangat jujur mengakui perasaan yang saya rasakan terhadap mereka, betapapun itu kedengaran sangat jahat dan egois, tapi saya memandang mereka memang sebagai embel-embel yang tidak penting. Saya berharap tidak perlu berurusan lagi, dalam arti harfiahnya, dengan mereka. Saya akan mengucapkan "Maaf atas semua kesalahan. Terima kasih untuk semuanya. Selamat tinggal." lalu menghilang secepat mungkin.

Saya tidak suka pergi sementara masih ada urusan duniawi yang belum saya selesaikan. Dengan mengatakan kalimat itu saya pikir urusan duniawi itu sudah selesai.

Tapi terhadap orang-orang itu selalu masih ada urusan duniawi yang tertinggal.

Bahwa saya senang bermain-main itu memang benar, tapi ketika kemudian saya melakukan kesalahan dan kebodohan yang tidak perlu dan harus membereskan akibat yang ditimbulkannya, lama-lama membuat saya menempatkan diri saya di suatu wilayah bernama kehancuran. Saya selalu dikejar-kejar oleh kewajiban untuk membereskan, tidak peduli bisa dibereskan atau tidak, penting untuk dibereskan atau tidak. Saya lelah dengan ketidakberesan yang saya timbulkan. Bisa saja saya katakan "I've done with everything" tapi orang-orang itu ada disana, menatap saya dan diam-diam menjadi saksi atas ketidakberesan itu.

Belakangan saya berusaha menghadapi kesaksian-kesaksian itu. Cara terbaik untuk lepas dari masalah adalah dengan menghadapinya. Saya bicara untuk membereskan masalah. Tentu saja dimulai dengan sejumlah basa basi sebelum saya mengatakan apa yang saya rasakan kepada mereka, berusaha menjelaskan dan meluruskan kesimpulan kusut yang terlalu cepat kami buat di masa lalu tentang sebuah masalah hingga pada akhirnya saya mengatakan kalimat itu.

Betapa terkejutnya saya ketika ternyata mereka nyaris semuanya bereaksi dengan reaksi yang menunjukkan seolah-olah saya telah melakukan hal yang sangat konyol dengan membahas masalah sesepele itu. Dari keseluruhan reaksi yang saya dapat rasanya cukup mewakili jika dipakai kata-kata, "Apa yang tidak ada harus dianggap dan diperlakukan seperti apa yang tidak ada."

Pada akhirnya saya menyadari betapa pun inginnya kita mengucapkan selamat tinggal pada sesuatu belum tentu kita dapat berpisah dengannya. Karena pertemuan dan perpisahan adalah sesuatu yang terlepas sama sekali dari peran suatu hasrat yang bernama keinginan.

Jumat, 07 Maret 2008

CINTA


Saya pernah, pada suatu masa dalam hidup saya, jatuh cinta pada seorang teman kuliah saya. Orangnya biasa-biasa saja. Dia tidak sangat tampan dan juga tidak sangat pintar. Pokoknya dia kelihatan biasa-biasa saja.

Namun sebagaimana yang telah kita ketahui bersama bahwa kesan pertama bisa saja tidak cukup mewakili kepribadian seseorang. Setelah mengenalnya saya melihat banyak kelebihan yang dia miliki. Dia punya selera humor yang bagus, merupakan seorang teman yang setia, seorang pria yang punya komitmen tinggi terhadap apapun yang sedang dia lakukan, dia punya pandangan yang luas dan mendalam terhadap kehidupan, dia seorang gentleman sejati yang menghormati wanita dan sopan santunnya luar biasa. Pada suatu hari dia mengunjungi saya. Waktu itu saya sedang berada dalam keadaan mempertimbangkan untuk menjelaskan perasaan saya yang sangat rumit itu kepadanya. Dia seorang yang menghargai persahabatan sehingga perasaannya kepada saya tidak pernah melangkah lebih jauh dari sekedar perasaan kasih sayang terhadap saudara. Dia terlalu terhormat untuk melakukan hal itu. Tiba-tiba harus bertemu dengannya pada saat seperti itu membuat saya sangat malu -karena saya merasa seolah-olah telah melakukan sebuah dosa meskipun saya tahu perasaan adalah hal terjujur yang bisa dialami seorang manusia dan bagaimanapun saya menginginkannya toh perasaan tidak pernah bisa disensor- sehingga akhirnya saya mengatakan bahwa saya tidak ingin bertemu dengannya. Dan sebagaimana akhlak seorang tamu yang baik ketika diminta pulang maka dia pun pulang. Pengertian dan rasa pemaklumannya terhadap saya membuatnya bersikap sangat bijaksana dengan tidak mempermasalahkan kejadian itu sama sekali dan tetap bersikap sebagai seorang teman yang baik. Itu adalah satu perwujudan kecil dari kepribadiannya yang baik. Mungkin disebabkan karena kelebihannya itu maka kemudian di mata saya dia menjadi terlihat sangat indah.

Persahabatan kami diawali dengan kata-kata dan sebenarnya memang seperti itulah bentuk hubungan kami baik dulu maupun sekarang. Saling mengirim puisi dan membahas masalah-masalah yang barangkali bagi orang lain merupakan topik yang membosankan. Saya merasa kata-katanya yang dia kirim kepada saya khusus dibuat dan disusun untuk saya dan saya merasa memiliki kata-kata itu untuk diri saya sendiri. Seringkali saya 'terbunuh' oleh kata-katanya. Saya pikir saya mencintai isi kepala dan kedalaman jiwanya.

Seiring dengan berjalannya waktu secara aneh saya menemukan ada begitu banyak kesamaan dalam diri kami. Misalnya kami sama-sama menyukai Raindrop-nya Chopin dan kami menikmati berjalan-jalan di alam bebas. Mungkin seperti kata-kata Kahlil Gibran bahwa kita mencintai seseorang karena kita melihat diri kita di dalam diri orang itu. Bagi saya dia adalah sebuah bentuk kalimat jadi dari apa yang tidak mampu saya ucapkan dari apa yang ada di dalam kepala saya. Semacam translator untuk memahami apa yang tidak saya sadari sudah saya pahami.

Saya mungkin salah satu orang yang memahami cinta dengan konsep berbeda. Perasaan saya kepadanya saya maknai sebagai sesuatu yang membuat saya lebih memahami kemanusiaan saya, membuat saya melepaskan diri sedikit demi sedikit dari obsesi konyol saya tentang kesempurnaan dan membuat saya mampu belajar dari sifat ketidaksempurnaan yang melekat dalam diri saya sebagai manusia biasa. Perasaan saya kepadanya adalah satu hal yang patut saya syukuri sebagaimana saya pun harus mensyukuri keberadaan saya sebagai manusia. Saya berharap bisa membawa perasaan itu kepada sesuatu yang bersifat spiritual.

Saya seringkali mempertanyakan rasa cinta saya terhadapnya, apakah merupakan perwujudan dari ketertarikan purbawi saya terhadap lawan jenis, apakah merupakan pengertian lain dari kekaguman saya terhadap suatu bentuk keindahan sekaligus keinginan untuk memiliki keindahan itu atau apakah rasa cinta saya itu merupakan cinta yang sesungguhnya.

Ketertarikan terhadap lawan jenis meskipun merupakan penyebab paling wajar dalam terciptanya hubungan antara laki-laki dan perempuan, tetapi menurut saya merupakan alasan paling buruk dari sebuah persahabatan dan jelas tidak akan saya pakai dalam menjawab pertanyaan apapun tentang hubungan kami.

Kekaguman akan keindahan menyebabkan orang ingin memiliki keindahan itu. Entah untuk alasan karena dirinya tidak indah sehingga perlu dilengkapi dengan keindahan itu ataukah cuma sebagai pajangan saja. Saya seorang yang menyukai keindahan tetapi saya rasa saya lebih menyukai keberadaan keindahan itu tetap pada tempatnya sebagaimana dia diciptakan daripada saya mengambil dan meletakkannya dalam ruang pribadi saya. Meskipun pada saat-saat tertentu saya berkhayal berkuda berdua dengannya menyusuri lembah dan melihat matahari terbenam bersama tetapi saya rasa saya lebih suka melihatnya berada dalam keadaan di luar khayalan saya, sibuk dalam dunia nyatanya.

Saya tidak tahu banyak tentang cinta. Cinta yang saya tahu barangkali cuma cinta yang ada dalam kitab-kitab, dalam puisi atau dalam film. Saya rasa cinta adalah sebuah konsep ide yang sangat kompleks. Selalu lebih mudah menjalani cinta daripada mengkonsepkannya. Karena saya terlalu narsis saya tidak bisa mempercayai bahwa diri saya akan bisa mencintai orang lain lebih dari rasa cinta saya terhadap diri saya sendiri, bahkan nyaris sama saja saya tidak yakin.

Ketiga pertanyaan itu membuat saya bingung karena jawabannya serba tidak jelas dan karena saya bukan orang yang bisa diam menikmati sesuatu tanpa memahaminya maka kebingungan itu kadang menjadi begitu parah dan mengganggu.
Terlepas dari kenyataan bahwa saya tidak pernah benar-benar 'memilikinya' saya rasa saya memang tidak punya hasrat untuk itu. Itulah barangkali sebab yang paling logis kenapa saya tidak mengenal rasa kehilangan dalam hal ini.

Mungkin perasaan saya terhadap teman saya itu adalah apa yang disebut sebagai perasaan yang sangat halus yang dirasakan oleh seseorang terhadap keluarganya. Sesuatu yang sangat lembut yang merasuk perlahan-lahan di dalam hati dan tanpa disadari kemudian berakar dengan kuat yang sesuatu itu mampu membuat seseorang melakukan perjalanan melintasi benua hanya untuk berjumpa dan mengucapkan salam kepada orang yang dia cintai. Sesuatu yang terlalu sederhana apabila diungkapkan hanya dengan sebuah kata bernama cinta.

Pertemuan denganmu
(adalah) sebuah kebetulan
tentu saja barangkali juga sebuah kecelakaan
Kau di luar rencanaku
menggembirakan diri
tampil di sela-sela kemanjaanku
Beginikah rasanya punya teman?
Hiruk pikuk hari-hari
lewat begitu saja, ringan
dan kau memenuhi kekosongan
Kita berteman saja
aku tak punya niat terlalu jauh
Hanya kurasakan kesegaran
yang penuh saat bersamamu
Kurasakan kelancaran napas hidup
Kurasakan detil dunia dalam matamu
Kurasakan sukacita waktu dalam gerakmu
Kita berteman saja:
sebuah kenyataan
yang sangat mungkin abadi
menjelma kupu-kupu indah di suatu pagi
dengan bunga-bunga dan suara burung
Meski kau akan berlayar jauh dengan kekasih
aku adalah pelabuhan kala kau sendiri
Kita berdua memecah kesunyian
membikin dunia terjaga
dan bersama bergembira
Kita berteman saja
Sambil tetap berdoa
demi ketulusan hati
yang kuingin tetap begitu
Ya kita berteman saja
dalam hidup ini
dan nanti.
Catatan:
Puisi pada bagian akhir tulisan ini dikutip dengan sejumlah penyesuaian dari puisi berjudul Ode Untuk Teman karya Bagus Takwin.

Sabtu, 01 Maret 2008

L'AMOUR EST UN OISEAU REBELLE


L'amour est un oiseau rebelle
que nul ne peut apprivoiser
et c'est bien en vain qu'on l'appelle
s'il lui convient de refuser
Rien n'y fait, menace ou priere
l'un parle bien, l'autre se tait
Et c'est l'autre que je prefere
Il n'a rien dit mais il me plait
L'amour!
L'amour est enfant de Boheme
il n'a jamais, jamais connu de loi
si tu ne m'aimes pas, je t'aime
si je t'aime, prends garde a toi
L'oiseau que tu croyais surprendre
battit de l'aile et s'envola
l'amour est loin, tu peux l'attendre
tu ne l'attends plus, il est la!
Tout autour de toi, vite, vite
il vient, s'en va, puis il revient
tu crois le tenir, il t'evite
tu crois l'eviter, il te tient
L'amour!

English version:

Love is a rebellious bird
that nobody can tame
and you call him quite in vain
if it suits him no to come
Nothing helps, neither threat nor prayer
one man talks well, the other's mum
He's silent but I like his looks
it's the other one that I prefer
Love!
Love is a gypsy's child
it has never, ever, known a law
love me not, then I love you
if I love you, you'd best beware!
the bird you thought you had caught
beat its wings and flew away
love stays away, you wait and wait
when least expected, there it is
All around you, swift, swift
it comes, it goes, and then returns
you think you hold it fast, it flees
you think you're free, it holds you fast
Love!

( An Aria from Carmen Opera)

Senin, 25 Februari 2008

CINTA SERUPA LARUTAN PEWARNA


Sesuatu yang dilahirkan dari sebuah cinta yang berkobar-kobar, atau dari sebuah gagasan yang besar, pada akhirnya hanya menjadi sesuatu yang kejam dan biasa-biasa saja ( "Doctor Zhivago", Boris Pasternak)

Sebagaimana yang sering saya dengar cinta adalah sesuatu yang digambarkan sebagai seberkas sinar matahari di tengah kegelapan atau sebagai topan badai yang dasyat. Saya bertanya-tanya bagaimana sesuatu yang begitu menghebohkan, begitu menggebu-gebu, begitu menggairahkan dan begitu melelahkan yang disebut cinta itu bisa berakhir begitu saja.

Saya sering mendengar akhir kisah cinta. Sebagian begitu mengharukan, begitu indah dan menjadi topik dalam puisi, drama, film bahkan dongeng pengantar tidur. Kisah cinta ini menjadi contoh, atau setidaknya dipakai dalam pelajaran moral dan etika sebagai penggambaran dari perasaan manusia yang dalam dan paling manusiawi.

Tetapi sebagian yang lain merupakan akhir kisah cinta yang biasa-biasa saja walaupun tidak biasa dalam arti harfiah. Kisah semacam ini begitu banyak menghiasi roman-roman picisan. Kisahnya murahan dan tidak bermutu karena cinta semacam ini biasanya disebabkan oleh sesuatu yang bersifat hormonal belaka dan berakhir juga oleh hal yang sama, misalnya perselingkuhan yang intinya kehilangan chemistry terhadap pasangannya. Tetapi kisah seperti itu akan selalu ada, berlangsung dan kemudian dilupakan.

Semua orang saya rasa ingin mengalami kisah cinta yang indah. Tetapi seperti yang saya sampaikan di bagian awal tulisan ini bahwa selalu ada akhir dalam sebuah percintaan.

Pertanyaan yang kemudian timbul adalah apakah memang cinta itu hanya seperti perasaan yang lain seperti misalnya lapar, haus, sedih, gembira dan sebagainya yang dapat muncul dan hilang dengan sebab-sebab tertentu? Ataukah itu karena sifat manusia yang tak pernah puas?

Barangkali cinta memang seperti makhluk hidup. Dia bisa lahir dari ketiadaan, dengan sebab-sebab tertentu, dia membutuhkan makanan untuk tumbuh, dia bisa sakit dan dia pun bisa mati.

Barangkali juga cinta itu seperti api. Betapapun panas membaranya api itu tapi pada suatu saat toh harus tetap meredup dan padam.

Kepedihan yang dirasakan tokoh dalam kisah cinta yang tragis terasa menyusup ke dalam hati, begitu mengharukan, begitu menyakitkan sekaligus begitu indah. Saya ingat pernah mendengar seorang teman berkata bahwa penderitaan karena cinta adalah penderitaan yang paling indah. Seorang teman yang lain pernah berkata bahwa sesuatu berada di puncak keindahannya adalah saat sesuatu itu mati. Beauty of the death. Entah apakah kalimat yang saya gunakan ini terlalu sarkastis atau malah justru satir.

Saya pikir kesengsaraan karena berakhirnya kisah cinta barangkali datang dari kesalahan pandang terhadap cinta itu sendiri. Orang secara diam-diam berharap cinta mempunyai kedudukan yang setidaknya lebih tinggi dari makhluk hidup, meskipun tentu saja tetap jauh di bawah Tuhan, yang mempunyai sifat-sifat istimewa seperti keindahan yang abadi dan trlepas dari pengaruh sang waktu. Tentu saja itu mustahil. Cinta adalah perasaan dan sebagaimana perasaan lain, cinta akan ada selama orang merasakannya. Artinya keberadaannya tergantung pada eksistensi perasaan itu sendiri.

Di sisi lain orang juga diam-diam menginginkan agar cinta dapat berlaku seperti sebuah properti yang mereka miliki selagi mereka suka dan dapat mereka buang jika sudah usang dan tak membutuhkannya lagi. Padahal pada kenyataannya cinta selalu melibatkan sesuatu yang alami, tidak terduga dan berada di luar kendali manusia. Sungguh pemikiran yang dualis.

Cinta barangkali seperti larutan pewarna. Jika anda seorang pelukis atau menyukai lukisan atau punya hobi melukis, seperti saya, anda akan tahu bahwa dalam mencampur warna seseorang tidak hanya dihadapkan pada banyak peraturan fisika dan selera estetika tetapi juga bagaimana mengendalikan kebebasan dalam sebuah komposisi yang masuk akal. Kita harus sangat berhati-hati sebelum mencampur satu warna dengan warna yang lain agar warna yang kita kehendaki muncul dengan indah. Memang seringkali terjadi apa yang disebut sebagai kecelakaan yang indah dimana kita mencampur dua warna secara tidak disengaja dan menghasilkan warna yang tidak terduga indahnya. Tetapi sebagaimana yang telah kita ketahui bersama bahwa dalam kebebasan selalu ada tanggungjwab yang mengikutinya maka apa yang disebut sebagai kecelakan yang indah itu selalu memberi konsekuensi yang panjang.

Sebagaimana sifat larutan pewarna, mungkin akan datang saatnya ketika warna yang dihasilkan menjadi sangat cemerlang kemudian meluntur dan menjadi kusam. Untuk itulah selalu diperlukan sebuah upaya pemeliharaan. Dan ketika seseorang telah berhenti memelihara cintanya maka cinta itu akan berada dalam babak akhir dari kehidupannya dan para tokohnya berada dalam adegan-adegan yang memilukan.

Barangkali gambaran saya diatas bisa cukup terwakili oleh lagu kesukaan saya ini:

Yen luntura wenterane
ora kaya yen luntur tresnane
tekan-tekane atine
kaya-kaya mung saksire dhewe

Ora sembada biyene
saben dina mung tansah methukke
saben kepethuk tembunge
angrerepa dadia duweke

Ora maido kala mangsa
wong sok gawe cuwa
ewasemana nganti bisa
anglunturke tresna

Ditambakna mrana-mrene
tiwas-tiwas ndedawa larane
nadyan tamba sejatine
ora liya mung awake dhewe.

Jumat, 15 Februari 2008

KATA-KATA


'Kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa' ("Sepotong Senja Untuk Pacarku", Seno Gumira Ajidarma)



Dalam sehari, jika kita bukan Tarzan (pada masa sebelum bertemu dengan Jane) yang cuma bergaul dengan binatang, entah berapa banyak kata yang kita ucapkan. Kalau bahasa yang digunakan kebetulan adalah bahasa ibu dan bahasa kedua yang sudah dikuasai dengan baik sehingga menjadi bilingual sempurna, maka bisa jadi kata-kata yang digunakan dapat berkembang membentuk kosa kata baru, idiom-idiom baru atau secara kreatif menghasilkan cara baru penggunaan "bahasa menyimpang".

Sebagian kata-kata yang kita gunakan, yang kita ucapkan hanya berakhir sebagai kata-kata dan tak pernah lebih dari itu.

Mungkin sebagian yang lain mengalami nasib yang "lebih baik". Dalam artian tertinggal dan dikenang-kenang atau lebih jauh lagi dapat menginspirasi orang untuk melakukan sesuatu.

Salah satu pekerjaan seorang penulis, penyair, sastrawan atau apapun istilah yang digunakan terhadap orang yang suka menuangkan ide dan gagasannya ke dalam bentuk tulisan, adalah berusaha agar kata-kata tidak hanya akan berakhir sebagai kata-kata saja.

Niat awal seseorang menulis, siapapun dia, saya kira adalah untuk berusaha menggambarkan keadaan perasaan dan pikirannya dalam bentuk kata-kata. perasaan sangat cepat perkembangannya dan juga sangat cepat berlalu.

Mencatatnya merupakan usaha untuk mengabadikannya. Sedangkan membicarakannya, atau mempubikasikannya, adalah usaha untuk membaginya dengan orang lain. Dua-duanya diam-diam mendukung bukti bahwa manusia itu sangat narsis.

Kembali ke pernyataan awal, benarkah kata-kata itu benar-benar tidak merubah apa-apa? ketika saya menanyakan pertanyaan itu ke salah satu sahabat dekat saya dia menjawab peradaban manusia ini berdiri diawali dengan kata-kata Tuhan. Tentu saja pendapatnya itu benar, tidak saja karena disertai dengan dalil yang sangat kuat tetapi karena hal itu sudah merupakan sebuah kebenaran universal yaitu segala sesuatu selalu berawal dari kehendak Tuhan.

Tetapi kata-kata yang saya maksudkan disini, dan yang menjadi masalah, adalah kata-kata manusia. Seperti yang tadi saya katakan bahwa manusia itu diam-diam sangat narsis, bagaimana dia memperlakukan kata-kata kadang sungguh memprihatinkan. betapa banyak kata-kata yang dihamburkan tanpa mendukung satu makna pun hingga rasanya seolah-olah dunia tanpa kata-kata adalah dunia yang lebih baik.

Saya tidak tahu apa konklusi dari semua itu. Tetapi saya pikir alangkah baiknya kalau kita berhati-hati dengan kemampuan kita untuk memproduksi kata-kata sebagaimana kita berhati-hati dengan pikiran kita agar kata tak kehilangan maknanya.

Selasa, 29 Januari 2008

KANGEN


Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku
menghadapi kemerdekaan tanpa cinta
Kau tak akan mengerti segala lukaku
karna cinta telah sembunyikan pisaunya
Membayangkan wajahmu adalah siksa
Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan
Engkau telah menjadi racun bagi darahku
Apabila aku dalam kangen dan sepi
itulah berarti
aku tungku tanpa api.

(Puisi berjudul "Kangen" dari buku kumpulan puisi "Empat Kumpulan Sajak" karya WS Rendra)

Puisi diatas adalah puisi kesukaan dosen sastra saya. Beliau juga yang pertama kali membuat saya menyadari bahwa kangen dan rindu itu memiliki makna yang berbeda. Kata kangen digunakan untuk menyatakan rasa rindu yang sudah parah jadi rinduuuu sekali.

Saya tidak tahu komposisi kimia apa yang membentuk rasa kangen itu. Barangkali otak yang kekurangan nutrisi adalah salah satunya karena ketika seseorang merasa kangen dia akan bersikap seakan tidak punya otak atau paling tidak seperti seorang yang otaknya mengalami malfungsi.

Kangen barangkali datang dari ketidakberadaan sebuah obyek yang kita inginkan keberadaannya, atau dari keindahan yang ada pada masa yang telah berlalu yang mana hal itu sebenarnya merupakan refleksi dari keinginan kita untuk mendapatkan dan merasakan kembali keindahan itu pada masa sekarang.

Kangen juga mungkin timbul ketika kita tidak merasa aman dan nyaman dengan keadaan kita. Masa lalu seringkali dianggap lebih aman karena sudah terjadi dan sesulit apapun masa itu toh sudah berlalu.

Pada intinya kangen bisa dikatakan timbul pada saat there's something wrong with us. Meskipun tentu saja tidak semua hal terjadi karena sebuah alasan yang jelas. Seringkali alasan itu adalah sesuatu yang bersifat complicated. Kangen termasuk dalam golongan hal yang alasan terjadinya bisa sangat complicated.

Saya sendiri adalah orang yang sangat sering merasa kangen. Baik merasa kangen kepada obyek yang jelas (keluarga, kekasih, sahabat dll) maupun kepada sesuatu yang tidak jelas. Saya bahkan bisa merasa kangen pada sesuatu yang saya sendiri tidak tahu sesuatu itu apa. Sudah biasa bagi saya untuk memulai percakapan, di jalan, di telepon atau di e-mail, dengan orang yang saya rindukan dengan kalimat "Aku kangen." Rasanya kalimat itu sudah cukup mewakili apa yang saya rasakan tanpa perlu bersusah payah menjelaskannya dalam kalimat yang panjang lebar.
Saya mengakui, merasa kangen tidaklah selalu menyenangkan. Pada suatu waktu kangen bisa berubah menjadi seperti penyakit yang tanpa obat. Jika diteorikan umumnya obat dari penyakit yang timbul karena ketidakberadaan sesuatu adalah dengan keberadaan sesuatu itu. Tapi kangen tidaklah selalu demikian. Mungkin kangen bisa diterapi dengan bertemu tapi tidak selalu menjamin kesembuhannya. Kadangkala setelah bertemu dengan orang yang kita rindukan kita justru malah semakin merindukannya terutama jika seseorang itu adalah orang yang menempati ruang yang luas di dalam hati kita.

Saya tidak tahu apa penyebab kangen itu adalah karena pentingnya hal yang kita kangeni itu dalam hidup kita ataukah karena kita begitu rewel terhadap kenyataan. Atau malah kedua-duanya. Saya sendiri bingung memutuskan mana yang benar. Paling-paling pada akhirnya saya hanya bisa mengutip lagu yang biasa didendangkan kekasih saya:

Yen ing tawang ana lintang, Cah ayu
aku ngenteni tekamu
marang mega ing angkasa ingsun takokke pawartamu.

Janji-janji aku eling, Cah ayu
sumedhot rasaning ati
lintang-lintang ngiwi-iwi, Nimas
tresnaku sundhul wiyati.

Dhek semana janjiku disekseni
mega kartika
kairing rasa tresna asih

Yen ing tawang ana lintang, Cah ayu
rungokno tangising ati
binarung swarane ratri, Nimas
ngenteni mbulan ndadari.

Minggu, 27 Januari 2008

SEJARAH


Beberapa hari terakhir saya merasa aneh sekali. Sepertinya saya selalu punya waktu luang tak peduli betapapun banyaknya hal yang saya kerjakan. Seorang teman saya bilang itu karena saya terlalu peduli pada detail. Tapi saya rasa itu lebih karena saya menyadari dan menghayati kehadiran waktu.

Saya rasa setiap orang punya persepsi berbeda tentang waktu. Panjang pendeknya tergantung bagaimana seseorang menghayatinya. Mungkin Einstein dan teori relativitas-nya itu merupakan gambaran paling ilmiah dari seseorang yang berusaha menggambarkan keadaan itu dengan satu kalimat saja.

Kadang-kadang aku bertanya-tanya bagaimanakah proses terbentuknya sejarah, sementara pada kenyataannya sejarah adalah apa yang baru bisa dilihat dan dikaji begitu telah terjadi. Saya pikir sangat jarang ada orang yang menyadari bahwa dia sedang menciptakan sebuah sejarah baru kecuali orang yang sangat optimis barangkali. Sejarah mungkin bisa disebut bagian yang paling aneh dari waktu, tidak dipedulikan sekaligus tidak terbantahkan.

Beberapa waktu lalu saya membaca buku berjudul Dunia Tanpa Ingatan karya Anton Kurnia. Ini adalah buku berisi kumpulan esai tentang sastra. Secara pribadi saya sangat terkesan dengan Anton Kurnia. Dia menghidupi dirinya dengan hasil tulisannya dan dengan kecintaannya pada sastra. Dia seorang sastrawan sejati. Tetap bisa berbahagia (dengan melakukan pekerjaan yang dicintai) tanpa perlu dibuat resah dengan ketidaksempurnaan dunia, menurut saya hal semacam itu sangat heroik.

Esai pertama di buku itu sangat bagus. Ada hal menarik yang mengganggu pikiran saya setelah membaca buku itu. Pertanyaan saya adalah: Jika tulisan dapat menjadi ingatan tandingan dari ingatan yang sebenarnya, maka apakah ingatan yang sebenarnya itu? Apakah itu adalah kenyataan ataukah sejarah? Reaksi ini hampir sama dengan saat saya membaca bukunya Milan Kundera. Ini semua membuat saya berandai-andai:

Seandainya pada suatu hari saya bunuh diri tanpa sebab. benar-benar tanpa sebab sehingga mencurigakan, sahabat-sahabat saya tersayang mungkin akan menemui psikiater sambil membawa copy dari semua tulisan saya, termasuk catatan ini, dan mereka pasti menyuruh psikiater itu untuk melakukan autopsi psikologis. Psikiater itu mungkin akan memberikan analisa dan menyimpulkan bahwa saya menderits manic depressive, bahwa saya terobsesi pada kematian dan bahwa persepsi saya terhadap realitas mengalami ketidakseimbangan. Dan kalau kesimpulan itu menjadi satu-satunya sebab yang masuk akal sementara tulisan saya, yang menjadi ingatan tandingan dari ingatan yang sebenarnya tentang saya, mendukung hal itu, dan kalau ingatan yang sebenarnya tentang saya menjadi begitu kabur oleh ketidakberadaan saya, pada akhirnya tulisan saya akan merekonstruksikan kehidupan saya dan begitulah yang akan tertinggal dari waktu yang kemudian menjadi sejarah.

Pengandaian di atas sungguh menggelikan sekaligus menakutkan saya.

Pada sejarah terdapat banyak pelajaran tapi saya rasa kesemuanya digolongkan menjadi dua bagian besar yaitu kisah tentang kebaikan seseorang dan kisah tentang kebodohan seseorang. Di antara kisah-kisah itu ada bentuk bualan orang yang oleh orang yang berbudaya disebut sebagai sastra. Walau kebenarannya diragukan tetapi tak dapat saya pungkiri bahwa kisah-kisah dalam sejarah maupun dalam karya sastra cukup mempengaruhi saya. Mungkin benar seperti kata Pablo Picasso bahwa kadang-kadang kebohongan membantu kita untuk lebih memahami kebenaran.

Well, saya rasa semua hal tentang sejarah ini membuat saya pusing. Mungkin ada baiknya saya katakan "Aku sudah cukup menghabiskan seluruh hidupku di dunia jaman sekarang dan dibuat repot olehnya tanpa orang lain perlu melantur tentang sesuatu yang terjadi ataupun yang tidak terjadi di masa lalu".

Senin, 21 Januari 2008

JEJAK-JEJAK KEDUKAAN


Apakah laut masih bernama laut?
Jika dia tidak ada
Apakah sunyi masih bernama sunyi?
Jika dia tidak ada
Ketika dia pergi
Aku kehilangan semua nama
Apakah maut masih bernama maut?
Jika dia tidak ada
Apakah matahari masih bernama matahari?
Jika dia tidak ada
Ketika dia pergi
Aku kehilangan seluruh cahaya.
(dikutip dari puisi dalam cerpen "Ketika Rinana Pergi" karya Cecep Syamsul Hari)


Hari ini adalah peringatan satu tahun meninggalnya kakek saya.

Siapapun yang kita temui dalam hidup kita meninggalkan jejak di dalam hati kita. Kadang jejak itu begitu samar sehingga dapat diterbangkan angin dan akan terhapus bersama berlalunya waktu. Tetapi ada kalanya jejak itu begitu dalam dan hati kita tak pernah sama seperti sebelumnya, demikian juga dengan hidup kita.

Rasanya jejak yang tinggal di hati saya karena keberadaan kakek saya sangat dalam, mungkin peristiwa-peristiwa dan hal-hal lain, bersama waktu, akan menutupi jejak itu tapi jejak itu akan tetap ada disana.

Saya adalah "wanita satu paket", artinya saya, keluarga saya, sahabat-sahabat saya dan semua orang yang saya cintai adalah sebuah kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Saya terikat dengan mereka baik secara fisik, emosi maupun moral. Mereka sangat mempengaruhi hidup saya sehingga apabila terjadi sesuatu pada mereka maka seakan-akan saya juga turut mengalaminya. Ketika salah satu dari mereka pergi saya merasa seakan-akan mata, telinga, lidah, tangan dan kaki saya dicopoti satu per satu. Kehilangan mereka adalah sebuah kedukaan yang tak terperikan.

Saya belum pernah kehilangan salah satu dari "paket" saya sebelumnya. Yang ada barangkali hanya "kepergian yang akan pulang kembali pada waktunya". Ketika kakek saya meninggal saya merasakan kedukaan yang begitu dalam. Saya merasakan rasa sakit yang sakitnya tak pernah saya bayangkan sebelumnya hingga saya yakin saya tidak akan bisa pulih seperti sebelumnya. Rasanya semua hal yang telah saya pelajari dan semua hal yang saya yakini tidak bisa menghilangkan rasa sakit saya. Baik saat itu maupun sekarang rasa sakitnya masih terasa sama.

Saya merasa tak peduli berapa tahun pun waktu yang telah kita lewati sejak peristiwa kehilangan itu, tak peduli berapapun usia kita, yang namanya sebuah kematian dari orang yang kita cintai tetap saja bisa menimbulkan kedukaan yang dalam.

Jumat, 18 Januari 2008

HASRAT PURBAWI MANUSIA


Saya merasa takut pada hasrat purbawi manusia.


Saya tahu sebagai manusia biasa saya dilengkapi dengan perangkat-perangkat tertentu yang mendukung kemanusiawian saya itu. Termasuk di dalamnya animal instinct. Naluri ini pada dasarnya berguna untuk kelangsungan hidup makhluk. Naluri ini meliputi naluri untuk makan, naluri untuk mempertahankan hidup, naluri untuk melanjutkan keturunan dan naluri untuk memperoleh pengakuan dari lingkungan. Naluri itu disebut naluri kebinatangan karena dimiliki juga oleh binatang.

Tidak ada yang menakutkan dari animal instinct kecuali bahwa ia ada di dalam diri saya. Membayangkan bahwa saya punya sesuatu yang dapat menyebabkan saya, pada suatu waktu, berpotensi untuk bertingkah seperti binatang sungguh membuat saya ngeri dan hampir-hampir membuat saya berpikir sangat negatif pada diri saya sebagai manusia.

Bagaimana pun sebagai seorang manusia saya selalu berusaha menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dan karena melihat pada kebaikan itu maka saya cenderung mengambil sosok yang saya pandang mewakili apa yang diartikan sebagai kebaikan itu. Sosok yang saya ambil adalah Rasul dan malaikat. Ketika saya menyadari bahwa saya tidaklah mungkin menjadi seperti mereka, tidak peduli sekuat apapun saya berusaha, maka saya dengan sadar diri mulai melihat kedudukan saya dalam hal kebaikan itu.

Tapi di sisi lain saya juga berpikir jika saya mengabaikan keberadaan animal instinct dalam diri saya, yang sebenarnya merupakan suatu potensi dilihat dari cara pandang tertentu, maka saya tidaklah akan bisa menjadi manusia yang sesungguhnya, seorang manusia yang manusiawi.

Terlebih lagi ketika saya menyadari bahwa ternyata di saat saya berada dalam kondisi dimana secara logika saya berada pada tingkat kemuliaan yang paling rendah (karena saya memperturutkan animal instinct itu) justru pada saat yang sama saya menyadari harkat kemanusiaan saya dalam kesadaran yang paling mendasar, jujur dan alami. Kesadaran itu saya anggap sebagai sebuah pengalaman spiritual. Mungkin seperti yang tertulis dalan Serat Centhini bahwa hasrat adalah teka-teki yang kita gali dari tubuh sebagai sebuah kerumitan. Tiap kali kita mendekat ke salah satu kunci teka-teki itu maka teka-teki itu menjadi kian sederhana, tetapi dalam setiap kesederhanaan itu melahirkan kerumitan baru. Demikian seterusnya tiada akhir, membentuk sebuah kerajaan yang paling purba indahnya.

Kini yang menakutkan saya bukanlah keberadaan animal instinct itu tetapi diri saya yang telah terikat kuat dengan animal instinct itu. Secara mendasar barangkali aku takut pada hasrat saya akan hal-hal yang bersifat duniawi. Itu karena saya tahu hal itu berpotensi untuk meruntuhkan keyakinan yang ada di dalam hati saya, keyakinan yang berusaha saya jaga baik-baik.

Bagaimanakah kita bisa selamat dari animal instinct kita pada saat sekarang ini ketika semua nilai tidak hanya telah digeser tetapi telah berganti nilai baru yang tidak berdasar atas pertimbangan baik dan buruk?

Kita lihat manusia sekarang. Animal instinct itu telah benar-benar diwujudkan dalam pengertian harfiahnya sebagai "sesuatu yang rendah". Dunia ini menyediakan segala macam hal yang melenakan dan juga segala bentuk tipu daya.

Membayangkan berada pada sebuah dunia dimana orang-orangnya, termasuk saya barangkali, hidup hanya dengan mengandalkan animal instinct-nya saja, sehingga menjadi hampir mirip dengan binatang, membuat saya ketakutan.

Selasa, 08 Januari 2008

APAKAH CINTA ITU SELALU BENAR?


Orang bilang cinta adalah hal terbenar dalam hidup manusia.

Karena dianggap merupakan suatu kebenaran maka setiap orang cenderung untuk mewujudkan cintanya bahkan dengan cara yang salah sekalipun.

Saya memperoleh dua ungkapan diatas dari bacaan yang saya baca beberapa waktu yang lalu. Saya pribadi menilai cinta sebagai sesuatu yang nyaris bersifat spiritual. Saya pikir cinta adalah sesuatu yang mulia, terhormat dan bermartabat. Cinta seharusnya mendorong orang untuk menjadi lebih baik, meningkatkan nilai dan harkat kemanusiaannya dan menempatkannya pada kualitas pribadi yang lebih tinggi.

Buku yang membahas tentang cinta yang pernah saya baca dan sangat saya sukai adalah Taman Orang-Orang Jatuh Cinta Dan Memendam Rindu-nya Ibnul Qayyim Al Jauziyah. Buku itu membahas masalah cinta dengan pemahaman yang kaya dan mendalam. Dalam buku itu disebutkan sebuah syair, sebuah syair yang sangat membekas di dalam hati saya. Syair tersebut kira-kira dapat diungkapkan seperti ini: Di dunia ini tidak ada orang yang lebih menderita dari seorang pencinta. Kendati dia mendapatkan hawa nafsu sebagai sesuatu yang sangat manis rasanya. Terlihat dia menangis dalam setiap keadaan. Baik karena rindu maupun karena takut berpisah. Dia menangis jika jauh dari orang yang dia cintai karena merasa rindu kepadanya. Dia pun menangis saat dekat dengan orang yang dicintainya karena takut berpisah dengannya. Saya pikir syair itu mewakili dengan sangat tepat tentang keindahan sekaligus penderitaan dari cinta.

Jika cinta merupakan suatu kebenaran kenapa di dalamnya terdapat rasa sakit? Itu pertanyaan yang kemudian muncul menanggapi ungkapan yang ada pada bagian pertama tulisan ini.

Saya pribadi berpikir rasa sakit yang muncul dari rasa cinta itu adalah akibat dari ikut berperannya rasa memiliki di dalam cinta. Rasa memiliki cenderung menyebabkan seseorang ingin mempertahankan sebuah keadaan dimana dia dan sesuatu yang menurutnya dia miliki itu berada pada tahap paling indah, paling menyenangkan dan paling stabil. Padahal dunia ini selalu berubah dari detik ke detik dan tidak ada satu hal pun yang bisa terhindar dari perubahan itu. Antara keinginan dan kenyataan ternyata berbeda sehingga menimbulkan kesedihan. Kita lihat orang seringkali membenci waktu karena waktu terlihat seperti sebuah sosok yang merenggut kestabilan yang dia inginkan berlaku bagi dia dan orang yang dia cintai itu. Karena membenci waktu maka dia berusaha sekuat tenaga untuk memanipulasinya dengan bersikap seakan dia dan kekasihnya adalah dua orang yang tetap seperti sebelumnya. Manipulasi ini menimbulkan kelelahan dan kembali lagi saat berhadapan dengan kenyataan hal itu menimbulkan rasa sakit.

Cinta dan rasa sakit adalah dua hal yang selalu akan saling mengikuti karena rasa memiliki adalah sesuatu yang sama alamiahnya dengan cinta dan rasa sakit itu sendiri. Sebagaimana cinta dan rasa sakit, rasa memiliki bersifat sangat manusiawi. Semua orang punya rasa memiliki tetapi bagaimana dia menyikapi rasa memiliki itu bisa sangat beragam pada masing-masing orang.

Apakah cinta itu selalu benar? Konsep jawabannya mungkin tergantung bagaimana cara seseorang mengapresiasikan cinta itu sendiri. Sebenarnya, merupakan sebuah ketidakadilan jika kita berpikir cinta yang kita miliki lebih mulia dari cinta orang lain, tetapi cinta itu adalah sesuatu yang tersimpan di dalam hati, kita tidak tahu dalamnya hati orang tetapi kita bisa melihat apa dampaknya bagi tingkah laku orang tersebut. Tingkah laku inilah yang sering kita anggap sebagai apresiasi orang tersebut terhadap suatu nilai tertentu yang dia yakini.

Saya sendiri menyadari, meskipun dengan berat hati, bahwa di dunia yang ya gitu deh ini ada cinta yang dinilai dengan begitu haram dan jahanam. Cinta semacam ini diapresiasikan dengan cara yang tidak lebih dari memperlihatkan kebejatan moral saja. Tentu saja cinta semacam ini pengertiannya bisa sangat berbeda dari pengertian yang ada pada bagian awal tulisan ini, baik pengertian secara harfiah maupun nirharfiah.

Kalau diandaikan dengan istilah kuliner maka cinta itu lebih merupakan taste (cita rasa) dibanding ingredient (bahan). Dalam pembicaraan mengenai taste maka yang dibicarakan adalah masalah selera. Tidak peduli bagaimana komposisi ingredient-nya, apakah baku atau tidak baku, apakah lazim atau tidak lazim, asalkan menghasilkan taste yang diinginkan maka recipe itu bisa dibilang acceptable. Saya mengenal seseorang yang hanya mau minum kopi yang dibuat berdasarkan ritual ini : kopi bubuk 3 sendok kecil dan gula 2 sendok kecil dituang dalam air panas tiga per empat cangkir dan susu seperempat cangkir, dan diaduk searah jarum jam selama satu menit. Sementara saya sendiri walaupun disuguhi kopi kualitas paling tinggi sekalipun saya akan lebih memilih segelas air mineral. Jadi kadang-kadang cinta itu hanyalah masalah acceptable atau tidak.

Cinta sebagai sebuah entitas merupakan sebuah ide yang sangat mulia. Dia terlepas dari keberadaan passion (hasrat) bahkan sense of belonging (rasa memiliki). Tetapi ketika kita, manusia yang ya gitu deh ini, mencintai maka keberadaan cinta itu bukan lagi menjadi ide yang semulia itu. Cinta tidak dapat hidup sendiri menjadi sebuah makhluk yang mandiri tetapi ketika manusia memilih, atau tanpa sadar terjerumus, untuk mencintai maka cinta itu kemudian melekat pada sisi-sisi kemanusiaannya. Hal itulah yang kemudian memungkinkan timbulnya kesalahan bahkan kejahatan dalam cinta.

Senin, 17 Desember 2007

SONNET XVII

I don't love you as if you were the salt-rose, topaz
or arrow of carnations that propagate fire
I love you as certain dark things are loved,
secretly, between the shadow and the soul.


I love you as the plant that doesn't bloom and carries
hidden within itself the light of those flowers
and thanks to our love, darkly in my body
lives the dense fragrance that rises from the earth.


I love you without knowing how, or when, or from where,
I love you simply, without problems or pride
I love you in this way because I don't know any other way of loving.


But this, in which there is no I or you
so intimate that your hand upon my chest is my hand
so intimate that when I fall asleep it is your eyes that close.


By Pablo Neruda(1960)

Kamis, 13 Desember 2007

HUJAN DAN CHOPIN


Kalau di rumah pada saat bulan Desember begini hujan pasti turun hampir setiap hari. Saya sangat suka hujan, baik hujan sebagai kata benda maupun hujan sebagai kata kerja alias hujan-hujanan. Itulah kenapa saya tidak pernah begitu suka payung walaupun kata orang sedia payung sebelum hujan tapi menurut saya kehujanan juga tidak apa-apa. Saat tetes-tetes air itu mengenai wajah saya rasanya luar biasa.

Saya suka memandangi hujan dan menghubung-hubungkannya dengan kenangan-kenangan masa kecil saya. Desa dimana saya dibesarkan terlihat sangat indah saat hujan turun. Hujan di tempat itu meruapkan aroma khas yang tidak bisa saya temukan di tempat lain. Mungkin itu yang disebut aroma kampung halaman.

Saya pikir saya lebih mudah mengingat-ingat suatu tempat jika saya berada di tempat itu ketika hujan turun. Saya selalu menghubungkan hujan dengan sesuatu yang sedang saya rasakan di dalam hati saya.

Saya merasa dapat menulis dengan lebih baik saat turun hujan. Saya juga mempunyai selera makan yang lebih baik di musim hujan.

Saya sering menggambarkan irama hujan dengan musik.

Saya suka mendengarkan Chopin. Entah sejak kapan saya menjadi penggemarnya, barangkali sejak pertama saya kuliah di Malang. Di waktu waktu tertentu saya mendengarkan Chopin sepanjang hari.

Chopin itu mungkin memang, meminjam istilahnya Cecep Syamsul Hari, ditakdirkan untuk menerjemahkan kesedihan menjadi sebuah penghiburan musikal bagi mereka yang sedang membiarkan hatinya hampa.

Salah satu lagu kesukaan saya adalah Raindrop. Suasana murung dan indah dari hujan digambarkan dengan bagus sekali. Bagi saya lagu ini terdengar seperti puisi yang ditulis berdasarkan perasaan yang mendalam dan dengan pemilihan diksi yang pas, sehingga seakan-akan membantu melongok ke kedalaman jiwa seseorang.

Komposisi yang juga saya sukai adalah Polonaise-Fantaisie, in A Flat Major, Opus 61. Perubahan dari A Flat Minor ke E Flat Minor, nada tinggi dan nada rendah yang datang dan pergi dengan penuh perasaan itu benar-benar bagus sekali. Pada awalnya saya terkaget-kaget oleh perubahan itu tapi kemudian terhanyut olehnya. Perasaan yang ditimbulkan benar-benar seperti melihat sebuah ilusi.

Saya tidak tahu siapa nama pemain piano yang memainkan komposisi Chopin yang saya dengar hampir tiap hari itu, tapi saya berpikir, lebih tepatnya membayangkan, bahwa dia adalah orang yang 'manis' lalu di waktu yang lain sama sekali 'tidak manis'. Perubahan dari 'manis' ke 'tidak manis' atau sebaliknya itulah yang rasanya paling cocok untuk Chopin.

SAKIT


Sakit adalah satu-satunya hal yang dapat memaksamu melakukan apa yang tidak ingin kau lakukan dan menghentikanmu dari melakukan apa yang kau sukai, ketika semua hal lain tidak bisa memaksamu.

Sakit bisa dibilang merupakan campur tangan Tuhan dalam wujud riil, tentu saja semua hal melibatkan campur tangan Tuhan, tetapi sakit adalah sesuatu yang datang tiba-tiba, bagaimana pun canggihnya ilmu kedokteran, betapapun kuatnya kemampuan seorang dokter memprediksi suatu penyakit berdasarkan gejala-gejalanya, tetapi kapan penyakit itu benar-benar datang tetap saja merupakan misteri.

Saya tidak tahu apa sebenarnya yang menyebabkan seseorang jatuh sakit. Mungkin itu akibat sebuah kelalaian kecil yang dilakukan orang tanpa sengaja telah membuat salah satu sistem tubuhnya tidak mampu bekerja dengan baik dan sebelum hal itu mengganggu seluruh sistem yang ada maka ada sebuah sistem mekanisme pertahanan dalam tubuh manusia yang mengeluarkan alarm sakit sehingga dengan cepat tubuh akan mengusahakan penyembuhan.

Mungkin, jika kita melihat dari sisi yang positif, sakit itu tidaklah selalu burukk.

Sakit membuat saya menyadari kalau saya tidak punya kekuasaan atas diri saya sedikit pun. Sakit menghilangkan sifat sombong yang terkadang mampir di kepala saya bahwa saya dapat melakukan apa saja yang saya mau.

Sakit membuat saya menyadari betapa banyaknya karunia Tuhan yang lupa saya syukuri. Betapa hal-hal yang terlihat sepele dan tak berarti ternyata adalah sesuatu yang sangat penting.

Seperti ungkapan stupidity makes me human, sakit juga barangkali sama. Sakit membuat saya menyadari bahwa saya cuma seorang manusia biasa dan it's okay.

Jumat, 07 Desember 2007

HAL-HAL SEDERHANA

Dalam hidup ini justru hal-hal sederhanalah yang paling berharga. Tetapi untuk menyadari itu orang perlu menemukan keindahan dalam kesederhanaan. Untuk itu orang harus memiliki kebesaran hati atau setidaknya cukup banyak kesabaran.
Lebih dari sembilan puluh persen dari waktu hidup kita berisi peristiwa-peristiwa sederhana, kecil, sepele dan tidak penting. Sementara sisanya, yang kurang dari sepuluh persen, itulah yang biasanya kita catat dalam buku harian kita, yang kita sertakan dalam curiculum vitae dan yang akan terus menerus kita ceritakan kepada anak cucu ketika kita telah tua. Memang, sekali waktu, beberapa peristiwa sederhana, karena sebab-sebab tertentu, berubah menjadi besar dan istimewa. Tetapi kapan hal itu terjadi selalu menjadi hal yang ditunggu-tunggu bahkan beberapa diantaranya adalah kejutan.

Jika kita mengisi waktu hidup kita dengan menantikan kejutan itu maka bisa dipastikan kita akan merasa bosan setengah mati. Tapi kalau kita membuat sendiri kejutan itu, meskipun mungkin mengurangi efek kejutannya, maka ceritanya akan berbeda. Setidaknya energi yang kita keluarkan untuk membuat kejutan itu akan membuat kita melupakan bahwa kita sedang merasa bosan.

Waktu bagaimana pun memang diciptakan untuk dilalui. Masing-masing orang tentunya mempunyai cara tersendiri bagaimana menghabiskan waktu mereka. Dan bagaimana mereka melalui waktunya itu sepenuhnya adalah urusan mereka sendiri.

Waktu adalah nikmat yang sangat besar dari Tuhan yang sayangnya seringkali terlupakan. Bersama dengan kesehatan, waktu dianggap sebagai sesuatu yang sudah seharusnya dimiliki, sesuatu yang sangat biasa dan natural, karenanya jarang dipikirkan. Setelah waktu berlalu dan kesehatan terganggu barulah orang menyadari betapa keduanya sangat penting.

Islam mengajarkan bahwa apapun yang berikan Tuhan kepada seseorang adalah yang terbaik bagi orang tersebut. Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan hikmah dan tentu saja ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.

Islam juga mengajarkan bahwa setiap hal yang diberikan manusia harus disyukuri. Sikap syukur itulah yang dapat menjadi kunci untuk melalui waktu hidup kita. Setiap hal sederhana yang disyukuri akan menambah nilai dari hal tersebut dan menempatkannya pada kedudukan yang berbeda.

Kesederhanaan adalah perilaku paling jujur untuk mengungkapkan penilaian dan sikap seseorang terhadap kehidupan dimana dia mampu menerima hidup dengan segala pernak perniknya secara lugas dan apa adanya.

Kesederhanaan bisa sangat menyenangkan karena orang tidak perlu memakai tata nilai dan standar dari orang lain. Dengan kesederhanaan pula orang dapat bereaksi secara wajar dan alami terhadap peristiwa-peristiwa sesuai dengan kepribadian dan kualitas individualnya.

Rabu, 05 Desember 2007

HOW CAN I NOT LOVE YOU


Can not touch
Can not hold
Can not be together
Can not love
Can not kiss
Can not have each other
Must be strong
and we must let go
Can not say what our hearts must know


How can I not love you
What do I tell my heart
When do I not want you here in my arm
How does one waltz away from all of the memories
How do I not miss you when you're gone


Can not dream
Can not share swee and tender moments
Can not feel how we feel must pretend it's over
Must be brave
and we must go on
Must not say what we've known all along.


Catatan:

How Can I Not Love You adalah lagu yang menjadi soundtrack film Anna and The King. Saya tidak tahu nama penyanyi yang menyanyikannya. Saya sangat suka lagu ini karena suara penyanyinya sangat dominan dibanding musiknya hampir mirip seperti mendengarkan penyanyi suprano di dalam opera.

HIDUP ADALAH SEBUAH PERJALANAN


Sri Batara Kresna dalam lakon Kresna Muksa mengatakan hidup ibarat sebuah perjalanan dan pendakian. Oleh Ki Hajar Dewantara ditambah pengertian, hidup dan mati. Seperti halnya sukses dan kegagalan. Tak perlu ditakuti namun harus dimengerti supaya tak selamanya kita dikuasai dan menjadi budaknya. Setelah mengerti hakikat keduanya kita akan menguasai dan menjadi tuan atas kenyataan yang ada.

Di atas bukit, Batara Kresna berdiri termangu, menyaksikan negerinya porak poranda diterpa badai seusai perang Baratayudha. Ia mengheningkan cipta dengan amat khusyuk. Sesudah itu berbalik arah dan melangkah turun seraya menyuruh Sadewa mengikutinya. Ketika ditanya dia hendak pergi kemana, Kresna justru balik bertanya, "Adikku, Sadewa, apakah yang akan dilakukan seseorang yang sudah jauh berjalan sampai di puncak? Oh Batara, karena orang harus terus berjalan sebagaimana hidup mengharuskan, barangsiapa sudah berada di puncak pendakian maka untuk meneruskan perjalanannya hanya ada satu pilihan baginya yaitu melangkah turun."

Dikutip dari Majalah Intisari

Sabtu, 01 Desember 2007

SERAT WULANG PUTRI




Dhuh ngger putri putraningsun
nadyan wis kanthi pinasthi
marang Hyang Kang Murbeng Titah
grahitaning para putri
saprahastaning pra putra
arantaraning pamikir.



Marmeng ngger aywa sireku
pasang sumeh jroning ati
katitik tyas tan sambada
marang apngaling Hyang Widhi
kang widagda tuhu awignya
anyolahken barang maring.


Iya ing manungsa sagung
luwih maning dera kardi
solah bawaning narendra
kang datan sepi pambudi nggyannya anggampil agama
kasucian kang dumadi.



Artinya:
Wahai putriku
walaupun sudah ditakdirkan
oleh Tuhan Penguasa Alam
(bahwa) akal para wanita
(hanya) seperdelapan para pria
dalam hal berpikir.



Oleh karena itu janganlah
merasa gembira dalam hati
padahal kamu tidak sesuai
dengan apa yang menjadi kehendak Tuhan
yang sempurna dan bijaksana
menggerakkan semua makhluk.



Juga terhadap sesama manusia
terlebih lagi dalam bekerja, menirulah
semua tingkah laku (sifat) raja
yang senantiasa tidak berhenti berusaha
dalam mengamalkan agama untuk
mencapai kesucian (hidup) yang sejati.


Dikutip dari Serat Wulang Putri bagian Kinanthi karangan Paku Buwono IV